Transformasi Digital Pendidikan Diperlukan Komunikasi Publik

  • Whatsapp

jurnalbogor.com – Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si, yang mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat V (Kabupaten Bogor), menegaskan bahwa komunikasi publik memegang peranan strategis dalam menyukseskan transformasi digital di sektor pendidikan.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Forum Diskusi Publik bertajuk “Komunikasi Publik dalam Mendukung Transformasi Digital Pendidikan” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bekerja sama dengan Komisi I DPR RI secara virtual, Senin (29/6/2026).

Read More

Webinar tersebut diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tenaga pendidik, komunitas, hingga masyarakat umum di Kabupaten Bogor.

Dalam keynote speech-nya, Anton mengapresiasi kolaborasi antara Komdigi dan Komisi I DPR RI sebagai upaya mempercepat transformasi digital pendidikan melalui penguatan komunikasi publik yang efektif.

Menurutnya, transformasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diwujudkan secara merata dan inklusif agar seluruh masyarakat memperoleh akses pendidikan yang berkualitas.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi transformasi digital masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesenjangan akses internet, keterbatasan perangkat pembelajaran digital, hingga rendahnya literasi digital di sejumlah wilayah.

“Komunikasi publik yang efektif bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun pemahaman bersama, mengubah perilaku, dan memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan,” ujar Anton Politisi yang berasal dari Partai Demokrat.

Ia menambahkan, komunikasi publik yang baik mampu mengubah persepsi masyarakat dari rasa takut terhadap teknologi menjadi kepercayaan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyiapkan generasi yang lebih kompetitif.

Anton juga mengajak seluruh pihak untuk membangun narasi positif mengenai transformasi digital melalui penyampaian informasi yang jelas, konsisten, dan penuh empati. Menurutnya, kisah sukses guru maupun peserta didik dalam memanfaatkan teknologi perlu terus disebarluaskan agar mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap digitalisasi pendidikan.

Sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan berkelanjutan melalui peningkatan infrastruktur digital, penguatan perlindungan data pribadi, serta pengembangan konten pendidikan yang berkualitas.

Sementara itu, Rektor Universitas Sains Indonesia, Dr. Ir. Endah Murtiana Sari, ST, MM, dalam paparannya menjelaskan bahwa transformasi digital pendidikan merupakan investasi strategis untuk mempersiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Ia mengingatkan bahwa anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar akan memasuki dunia kerja pada tahun 2045. Karena itu, sistem pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Menurut Endah, transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga menyangkut perubahan budaya organisasi, tata kelola, layanan pendidikan, proses pembelajaran, hingga komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan perkembangan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, cloud computing, hingga persoalan kesenjangan akses internet, kompetensi guru, literasi digital masyarakat, dan pemerataan infrastruktur.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Endah menekankan pentingnya membangun ekosistem digital pendidikan melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, startup, dan komunitas.

Ia juga mengulas praktik terbaik transformasi digital pendidikan dari Finlandia, Korea Selatan, Singapura, dan Estonia sebagai referensi bagi Indonesia dalam membangun kebijakan yang konsisten, meningkatkan investasi sumber daya manusia, memperluas infrastruktur digital, serta memperkuat budaya inovasi.

Menurut Endah, kehadiran AI bukan untuk menggantikan guru, melainkan menjadi alat bantu yang memperkuat proses pembelajaran. Guru tetap memiliki peran utama sebagai fasilitator, mentor, coach, inspirator, sekaligus pembimbing karakter peserta didik.

Ia menambahkan bahwa generasi masa depan harus dibekali kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, literasi AI, kepemimpinan, kewirausahaan, dan kemampuan memecahkan masalah.

“Transformasi digital pendidikan bukan sekadar mengubah cara belajar menggunakan teknologi, tetapi membangun generasi yang mampu belajar sepanjang hayat, beradaptasi, berinovasi, dan memimpin perubahan menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Endah.

Paparan berikutnya disampaikan oleh kreator konten sekaligus perancang digital Sulung Nofrianto. Ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital pendidikan sangat ditentukan oleh komunikasi publik yang mampu menjembatani perubahan di tengah masyarakat.

Menurut Sulung, transformasi digital bukan hanya perpindahan dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran digital, tetapi perubahan pola pikir, pola komunikasi, dan cara membangun ekosistem pendidikan yang lebih adaptif.

“Teknologi hanyalah alat. Komunikasi adalah bahan bakar yang menentukan berhasil atau tidaknya transformasi digital,” ujarnya.

Ia memperkenalkan strategi 3P (Personalized, Participatory, dan Positive Proof) sebagai pendekatan komunikasi publik dalam mendukung transformasi digital pendidikan. Pendekatan tersebut menitikberatkan pada penggunaan bahasa yang mudah dipahami, melibatkan guru dan orang tua sebagai bagian dari perubahan, serta menunjukkan bukti nyata manfaat transformasi digital.

Sulung juga mengajak para pendidik untuk memulai digitalisasi dari langkah-langkah sederhana, memanfaatkan aplikasi yang mudah digunakan, melibatkan siswa dalam eksplorasi teknologi, dan melakukan evaluasi secara berkala.

Menurutnya, resistensi terhadap perubahan merupakan hal yang wajar. Namun, resistensi harus dipandang sebagai masukan untuk menyempurnakan proses transformasi sehingga dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.

Melalui forum ini, para narasumber sepakat bahwa keberhasilan transformasi digital pendidikan tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga membutuhkan komunikasi publik yang efektif, peningkatan literasi digital, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Dengan sinergi tersebut, transformasi digital diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045.

(say/cc)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *