Penulis: Yaya
jurnalbogor.com – Seringkali kita mengukur kebahagiaan dengan status ataupun materi yang kita miliki. Sehingga jelas sekali ada strata yang terbentuk di masyarakat saat ini. Orang yang berbaju kumal sering dianggap tidak pantas ataupun rendah sedangkan tangan orang kaya dan pejabat dicium-cium ‘Eh tahunya tangan habis korupsi’.
Pemandangan itu sering kita lihat seperti kejadian viral baru-baru ini kasus maling ayam di Bali Kabupaten Tabanan, Bali pada Juli lalu. Korban merupakan seorang pria berinisial KD sampai dipukul warga hingga meninggal dunia dan tangis anaknya pecahnya melihat langsung kejadiannya. Disisi lain, seringkali kita lihat pejabat-pejabat yang memakai rompi orens itu baru saja dieluh-eluhkan bawahannya ataupun disambut dengan karpet merah.
Pernahkah sekali saja kita berpikir apakah memang materi menjadi standar kebahagiaan kita? mari kita lihat mobilnya mewah itu masih saja wajahnya kusut dan berujung ke jeruji besi. Disisi lain coba sesekali lihat pemandangan di lampu merah ataupun dibawah tol tol banyak yang tidak mempunyai rumah tapi ada senyum yang tulus dari wajahnya.
Kejadian ini saya alami sendiri. ‘Saya habis meneguk kopi yang harganya 34.000 kemudian masih bisa makan sushi dan masih bisa shopping-shopping di mall, tapi nafas saya kadang masih berat masih aja yang perlu dipikirkan, pengen lebih dan lebih lagi. Sepulang saya dari mall itu saya mendapati dua orang anak muda di pinggir jalan sambil menjajahkan kerupuk-kerupuk ditangannya. Jujur saya seperti digampar saat itu melihat mereka masih tertawa lepas dan bercanda satu sama lain walaupun ditangannya berat dan penuh dengan kerupuk-kerupuk”.
Ternyata memang betul espresso itu cuman enak dinikmati di gelas yang kecil jika diletakkan dalam wadah yang besar keistimewaannya sudah tidak ada. Kira-kira kalimat ini bisa menggambarkan kalau kebahagiaan dipakai dengan kacamata materi. Artinya jika sudah dapat satu hal dalam diri manusia ada rasa ketidakpuasan dan sampai ada yang terjebak melakukan Sesuatu hal yang akhirnya merugikan dirinya.
Mari kita lihat lebih dalam lagi dalam diri kita dan berpikir lebih jernih lagi. Saat kita lahir juga kita tidak membawa apapun, semakin kita tumbuh dan mengenal hidup banyak perspektif yang akhirnya terbentuk. Saat kecil, untuk sekedar melihat mainan saja sudah cukup Bahagia. Melihat hujan saja kita sudah Bahagia. Makan dipinggir sawah-sawah saja sudah cukup menenangkan bagi saya yang dulunya anak kampung ‘sekarang yang tinggal di kota’ Setelah dewasa akhirnya lupa kalau Bahagia itu ternyata ‘sederhana’.
***






