Bedah Sosialisme Islam Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati, PKB Kota Bogor Refleksikan Arah Perjuangan dan Kekuasaan

  • Whatsapp
Kegiatan diskusi dan bedah buku bertajuk “Sosialisme Islam: Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati.”

jurnalbogor.com – Sekitar 200 peserta memadati Gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB), Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (5/11/2026), dalam kegiatan diskusi dan bedah buku bertajuk “Sosialisme Islam: Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati.”

Diselenggarakan DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Bogor, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali ruang diskusi ideologis dan intelektual di lingkungan pergerakan politik. PKB Kota Bogor mengangkat pemikiran sosialisme Islam bukan semata sebagai kajian sejarah pemikiran, melainkan sebagai bahan refleksi untuk membaca kembali orientasi perjuangan partai, terutama dalam memaknai kekuasaan dan tanggung jawab politik terhadap rakyat.

Read More

Sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang hadir, mulai dari pengurus PCNU, Muslimat NU, perwakilan majelis taklim, aktivis, hingga berbagai elemen masyarakat lainnya.

Diskusi menghadirkan empat narasumber, yakni Dr. H. Ade Sarmili, M.Si., Direktur PPIB; Ahmad Ubaidillah, pemerhati gerakan Islam; Adnan Anwar, Direktur Penata Dipantara; dan Moh Romli, dosen sekaligus aktivis NU. Sementara Heri Firdaus, Direktur Buatsemua Foundation, bertindak sebagai pemantik diskusi.

Kegiatan ini juga dihadiri Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, S.Th.I., MM, Ketua Fraksi PKB MPR RI.

PKB dan Refleksi Kembali Ideologi Pergerakan

Pemilihan tema Sosialisme Islam memiliki relevansi dengan perjalanan gerakan politik yang berangkat dari tradisi dan nilai-nilai keislaman. Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati menawarkan ruang pembacaan tentang bagaimana Islam tidak hanya menjadi ajaran spiritual, tetapi juga memiliki dimensi pembebasan, keadilan sosial, dan keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan.

Bagi PKB Kota Bogor, pemikiran tersebut penting untuk direfleksikan dalam konteks perjuangan politik hari ini dan masa depan.

Perjuangan partai tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana memperoleh kekuasaan, memenangkan kontestasi, atau memperbesar representasi politik. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kekuasaan yang berhasil diraih dapat melahirkan perubahan sosial dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kekuasaan semestinya bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menghadirkan keadilan, memperluas kesejahteraan, memperkuat ekonomi rakyat, serta memastikan kelompok masyarakat yang lemah tidak tertinggal.

Dalam konteks itulah gagasan sosialisme Islam menjadi penting sebagai bahan refleksi bagi PKB untuk menghubungkan nilai keislaman, tradisi kebangsaan, dan praktik perjuangan politik.

Islam Menjadi Fondasi Kekuasaan, Bukan Alat Legitimasi

Salah satu persoalan penting yang perlu terus direfleksikan dalam hubungan agama dan politik adalah jangan sampai Islam hanya dijadikan alat legitimasi moral bagi seseorang yang sedang berkuasa maupun mereka yang sedang berkontestasi merebut kekuasaan.

Agama memiliki kekuatan moral yang besar. Pandangan kiai, ulama, ustaz, dan tokoh agama memiliki pengaruh dalam membentuk kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin. Karena itu, relasi antara agama dan kekuasaan membutuhkan kesadaran kritis serta independensi moral.

PKB Kota Bogor melalui forum ini mengangkat pentingnya menempatkan Islam bukan sekadar sebagai simbol, jargon, atau stempel pembenaran politik, melainkan sebagai fondasi etik dan moral dalam menjalankan kekuasaan.

Nilai-nilai Islam harus tercermin dalam cara kekuasaan digunakan: amanah, keadilan, kejujuran, keberpihakan kepada kaum lemah, serta tanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat.

Refleksi ini juga relevan bagi para penggerak Islam, kiai, ulama, ustaz, dan aktivis. Gerakan Islam memiliki tanggung jawab bukan hanya memberikan legitimasi moral kepada pemimpin, tetapi juga menjaga agar kekuasaan tetap berada dalam koridor nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Agama semestinya menjadi kompas moral yang mengarahkan sekaligus mengoreksi kekuasaan, bukan menjadi stempel moral untuk membenarkan siapa pun yang sedang berkuasa.

Dari Pemikiran Menjadi Gerakan Nyata

Bagi PKB Kota Bogor, diskusi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan bedah buku. Pemikiran sosialisme Islam perlu terus didiskusikan dan diterjemahkan menjadi orientasi gerakan politik yang memiliki keberpihakan sosial.

Pertanyaan mendasarnya adalah ketika kekuasaan berhasil diraih, apa yang dapat dihasilkan untuk rakyat?

Apakah kekuasaan mampu memperluas akses pendidikan dan kesehatan? Apakah kebijakan politik memberikan ruang lebih besar bagi ekonomi rakyat? Apakah kelompok rentan memperoleh perlindungan? Apakah keadilan sosial benar-benar menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan politik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar perjuangan politik tidak terjebak pada perebutan posisi dan kepentingan kekuasaan semata.

Melalui diskusi ini, PKB Kota Bogor membuka ruang refleksi bahwa perjuangan politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam harus memiliki tujuan sosial yang jelas. Bukan hanya menghadirkan pemimpin dengan identitas keislaman, tetapi juga menghadirkan kekuasaan yang bekerja berdasarkan nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan.

Sekitar 200 peserta yang memenuhi Gedung PPIB menunjukkan antusiasme berbagai elemen masyarakat terhadap ruang dialog pemikiran keagamaan dan sosial-politik.

Pada akhirnya, gagasan yang ingin terus dihidupkan adalah bahwa Islam harus hadir dalam praktik kehidupan dan kebijakan, bukan berhenti sebagai simbol dalam kontestasi politik. Kekuasaan boleh menjadi instrumen perjuangan, tetapi keadilan dan kemaslahatan rakyat harus tetap menjadi tujuannya.

(yev/cc)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *