Membandingkan Gaya Kepemimpinan Sukses versus Gagal untuk NKRI

  • Whatsapp
AA (kiri) bersama Bang Dr.Mustafa Abu Bakar, mantan KaBulog, Menteri BUMN, Gubernur NAD

jurnalbogor.com – Menarik juga apabila menyimak narasi-narasi tentang sosok pemimpin yang sukses dicintai rakyatnya, dan sebaliknya kepemimpinan yang tak bermoral dan tidak menegakan etika dan hukum, maka akan mensengsarakan rakyat yang dipimpinnya.

Akibatnya diakhir masa jabatannya pemimpin yang gagal itu, akan berperilaku aneh “paradoks dan anomali”dengan bercawe-cawe mempertahankan kekuasaan dengan perbuatan penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan (abuse of power and authority).

Read More

Pesan moral dan etik yang tersirat dan tersurat di dalam 2 (dua) artikel singkat dan sederhana tersebut, sangat baik untuk kita pahami dan dikhayati, serta seharusnya menjadi pedoman berperilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara guna memuluskan memasuki Indonesia Emas, 100 tahun Indonesia Merdeka pada thn 2045.

Walaupun kita sama-sama menyadari bahwa pola dan watak kepemimpinan Angela Merkel (Kanselir Jerman) dan Dr.Muhammad Hatta (Wapres RI pertama), ceritanya ibarat bumi dan langit, jomblang,  sangat “mahal” dan “asing” (anomali dan paradoks) jika dibandingkan dengan situasi dan kondisi dinamika kepemimpinan nasional RI saat ini.

Bukan rahasia lagi, bagi the ruling party yang berkuasa di era mas Joko saat ini,  sepatutnya kita berani membandingkan dan memberikan penilaian sebagai bahan pembelajaran (lesson learned) untuk kemajuan bangsa dan negara. Kita sebagai kaum terpelajar, intelektual tidak boleh apatis atau permisif.

Maaf, berdasarkan pengamatan fenomena sosial-politik yang tengah berlangsung, kita akan menyimpulkan gaya dan gerak-gerik (style and gusture) kepemimpinan Mas Joko sangat dikenal typologi seorang “raja” yang gemar bercawe-cawe dengan istilah lainnya, terbukti suka melakukan penyalahgunaan kekuasaan (a buse of power), dan ajaibnya beliau mas Joko mendapat  pendukung “yang setia” yang lumayan banyak jumlahnya, minimal tercatat ada 7 Parpol dalam pemilu Pilpres thn 2024 berada pada barisan mas Joko.

Bahkan sekarang pada pasca keputusan MK RI tgl 22 April 2024 yg lalu, dengan memenangkan paslon 02, Capres RI PS dengan Cawapres RI GRR anaknya mas Joko, semakin bertambah lagi pendukung mas Joko. Gejala sosial politik ini, semakin tampak dari beberapa Parpol pendukung Paslon 01 dan 03 yang kalah dalam pemilu pilpres RI thn 2024, mulai bermanuver dan merapat, lompat pagar, ramai-ramai bermigrasi ke kubu Paslon 02, untuk berkoalisi dgn Presiden RI terpilih PS. 

Barang tentu mereka ada maunya untuk melirik dan mendapatkan kursi menteri negara dari sang Presiden RI PS, yang berambisi membangun koalisi besar kabinetnya dengan berbagi kekuasaan (power sharing) terutama di eksekutif, juga legislatif dan bahkan yudikatif.

Bagusnya koalisi besar ini berdampak stabilitas politik terjaga, akan tetapi jeleknya, proses pengawasan jalannya Pemerintahan lepas kontrol, sebab minus “ceck and balancing power” sehingga korupsi marak, dan perbuatan “abuse of power and authority” oleh Presiden RI dan para penyelenggara negara menjadi-jadi seperti yang terjadi belakangan ini spt KPK lemah, MK RI distrust, DPR RI dan MPR RI mandul, DPD RI sepertinya tidak ada kerjaan dll.

Dalam arti kata yang lain dengan mempelajari gejala sosial-politik yang terjadi belakangan ini dan hasil keputusan MK RI tentang sengketa pemilu Pilpres RI thn 2024, beliau mas Joko sukses menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya dalam birokrasi Pemerintahan RI selama lk 5 tahun terakhir, dan puncak “prestasinya” telah berhasil menempatkan anak-anak kandung dan menantunya dalam waktu singkat pada posisi “terhormat’ yaitu Walkot, Ketum Parpol dan Wapres RI.

Walaupun itu dilakukan dengan menabrak UU, sehingga cacat moral dan etik dalam proses penetapan spt yang terjadi Cawapres RI GRR, putrsnya.  Walaupun banyak kritikan, protes dan demontrasi rakyat besar-besaran di gedung parlemen.DPR RI Senayan Jakarta. Akan tetapi semuanya itu beliau mas Joko tidak dihiraukan, dan tidak ditanggapi, berbagai kritikan dan demontrasi massa rakyat menolak keputusan tidak digubris, emangnya gue pikiran istilah lainnya “anjing menggonggong kabila tetap berlalu”.

Para cerdik pandai, komunitas Guru Besar (Profesor) Universitas ternama (dengan ratusan PTN dan PTS) pun beserta para Ahli Hukum konstitusi telah bersuara lantang dalam mengkritisi keadaan NKRI yang tidak kondusif  “redup dan sakitnya demokrasi” di tanah air kita, itu pun tidak dihiraukan. Padahal mereka melakukannya dengan otak dan hati yang geniun dan tulus ikhlas dengan niat mulia mencintai dan menyelamatkan bangsa dan negaranya, yang namanya Indonesia Raya.

Demikian itu dituduh mereka para GB adalah partisan dan ditunggangi, begitulah arogan dan keblingernya rezim.yang berkuasa saat ini. Masuk akal kiranya, pernah ada statemen “bapak akal sehat” RG sampai-sampai berkata “jorok” bahwa pak lurahnya “bajingan, bodoh dan dungu” yang sempat menggetarkan alam jagat raya kebangsaan dan keindonesiaan. Diperkuat lagi persoalan adanya kasus ijazah palsu pak lurah, yang alot pembuktiannya  persidangan di di pengadilan negeri, salah seorang pengacaranya teman saya ES.

Bagi mas Joko yang sangat penting bagi kepentingan pribadinya terpenuhi, bukan kepentingan negara. Beliau bisa membangun dinasti politik dalam waktu singkat di dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 hasil amandemen ke 4.

Sebuah fenomena sosial politik yang sangat baru dan anomali terjadi pada usia ke 75 RI, yang barangtentu sangat berlawanan dengan karakter (watak) kepemimpinan Kanselir Jerman 18 thn berkuasa Angela Merkel, hidup bersih dan sederhana, tidak pernah melanggar hukum, yang diakhir kekuasaannya (lengser) sangat dihormati dan dicintai rakyatnya, karena.sukses melaksanakan “good governance” dan suksus mensejahterakan rakyatnya.

Begitu juga karakter atau watak kepemimpinan Wapres RI pertama Dr.Muhammad Hatta terkenal gaya hidup dan gerak langkah yang amat sederhana dalam perikehidupan keluarganya, sosok manusia Bung Hatta yang jujur, hidup bersih dan bebas KKN serta vigur intelektual muslim nasionalis sejati dengan banyak karya tulis ilmiah dan pengarang buku-buku. Beliau Bung Hatta pada saat berkuasa, tidak mau dan tidak mampu melakukan perbuatan dan tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), apalagi untuk kepentingan keluarganya.

Walaupun kepentingan itu tampak begitu sederhana dan sepele, seperti yang dinarasikan hanya untuk menyelamatkan besar tabungan pribadi ibu Rachmi Hatta untuk rencananya membeli mesin jahit. Wapres RI pertama itu, tetap konsisten merahasiakan kebijakan negara ttg pemotongan uang ORI (Oeang Republik Indonesia) kepada anggota keluarganya.

Selanjutnya kebijakan pemotongan nilai mata uang rupiah ORI, tetap diputuskan dan diberlakukan, sehingga uang tabungan pribadi ibu Rachmi Hatta, istrinya, menyusut drastis nilainya rupiahnya, sehingga keluarga itu akhirnya gagal membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya.

Demikian itulah watak mulia dan genius pemimpin Indonesia, Wapres RI, sang Proklamator alm. Bung Hatta yang pernah dimiliki Indonesia tempo doeloe.

Jika kita tarik atau refleksikan dalam perspektuf ke kondisi kepemimpinan tempo doeloe ke masa kini terutama hasil pemilu Pilpres RI thn 2024, yang Wapresnya dimenangkan GRR putranya.mas Joko, makanya sangat sulit dipahami secara akal sehat (waras) untuk legowo menerimanya, kecuali dengan memakai kaca mata akal fulus (transaksional, money politic) dan bulus (akal-akalan, licik, culas dan berbuat curang).

Dengan narasi singkat tersebut, terjawab sudah apa beda kepemimpinan mas Joko dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Bung Hatta, Wapres RI pertama yang sukses dan legendaris, jika kita menyimak konten dan pesan moral yang ada pada 2 tulisan tersebut yang sdh viral di medsos.

Jujur kita berkata, kita amat mendambakan kepemimpinan nasional Republik Indonesia seperti yang pernah diberikan kesuritauladanan bpk Dr.H.Mohammad Hatta, bapak Koperasi Indonesia, perumus UUD 1945 asli pasal 33 (Bab Kesejahteraan Rakyat) yang bercita-cita mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia (sila ke 5 Pancasila) versus cengkraman oligarki yang digiatkan oleh the ruling party zaman Now, yang membuat kehidupan sosial-ekonomi sangat timpang dan menganga, yang ditandai.. “yang kaya semakin kaya-raya, yang miskin bertambah miskin”.

Demikian itu, narasinya bukan ilusi atau palsu (hoaks), melainkan itu fakta, rialitasnya tampak jelas dari sejumlah indikator pembangunan sosial-ekonomi, hukum dan politik seperti angka indeks gini rasio, indeks persepsi korupsi, indeks penegakan hukum dan ham, angka IPM, indeks kemiskinan, indeks pengangguran, indeks daya saing sdm, angka stunting, piutang luar negeri semakin membengkak, etc, tampak kecenderungan menurun dan peringkat buncit jika dibandingkan sejumlah negara di dunia.

Semoga narasi singkat ini, hendaknya menjadi bahan perenungan kita bersama warga bangsa yang masih berakal sehat (waras) dan mau berpikir dengan hati yang bersih (tulus) untuk keselamatan NKRI yang kita cintai ini, kini dan di masa depan.

Save NKRI, save bangsa dan rakyat Indonesia dari tangan-tangan para perusak dan penghianat bangsa dan NKRI.
Syukron barakallah
Wassalam

====✅✅✅

Penulis: Dr.Ir.H.Apendi Arsyad,M.Si
(Dosen dan Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Pendiri dan Wasek Wankar ICMI Pusat merangkap Ketua Wanhat MPW ICMI Orwi Khusus Bogor, Konsultan, Pegiat dan Pengamat serta Kritikus Sosial melalui tulisan di media sosial)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *