Lupakan Dadan, Silmy, Febry. Ini Saatnya Lamine Yamal vs Messi

  • Whatsapp
HMU Kurniadi

Oleh
HMU Kurniadi
Wartawan senior

jurnalbogor.com – Sesaat publik terlupakan kasus mega korupsi batubara yang berdampak blackout Sumatera Jawa, suap Asabri dan Krakatau Steel yang merugikan negara trilyunan yang berujung ditetapkannya pejabat sekelas Jampidsus Febrie Adriansyah jadi tersangka.

Read More

Publik Indonesia juga seolah amnesia kelanjutan korupsi makan bergizi gratis yang bikin heboh seluruh Indonesia yang melibatkan trio pimpinan Badan Gizi Nasional Dadan-Sony-Lodewyk masuk bui. Bahkan kasus korupsi Wamen Imigrasi Silmy Karim yang terkena buntut operasi tangkap tangan KPK lenyap dari ingatan. Sampai berita recehan pengangkatan asisten Rafi Ahmad dan ex sales Toyota yang disebut-sebut ponakan menteri pekerjaan umum sebagai komisaris BUMN terlupakan.

Publik kini sepenuhnya tertuju pada satu pertandingan yang menjadi perhatian miliaran pasang mata di seluruh dunia: Final Piala Dunia 2026, mempertemukan Spanyol melawan Argentina.

Final kali ini menghadirkan sebuah cerita lintas generasi. Di satu sisi ada Lamine Yamal, wonderkid Spanyol yang dalam usia sangat muda telah menjelma menjadi ikon baru sepak bola dunia. Di sisi lain berdiri Lionel Messi, legenda hidup yang masih menjadi ruh permainan Argentina dan berpeluang kembali menorehkan sejarah di panggung terbesar sepak bola.

Pertarungan dua generasi ini benar-benar mengguncang semesta. Euforia final Piala Dunia bahkan terasa hingga ke Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, perbincangan publik di media sosial, warung kopi, kantor, hingga komunitas olahraga lebih banyak diisi dengan prediksi siapa yang akan mengangkat trofi dibanding membahas berbagai isu politik, ekonomi, maupun penegakan hukum yang sebelumnya mendominasi pemberitaan nasional.

Yang menjadi sorotan saat ini bukan lagi perdebatan mengenai berbagai perkara yang sedang menjadi perhatian publik, melainkan pertanyaan sederhana namun penuh gairah: Spanyol atau Argentina?

Spanyol Datang dengan Status Favorit

Lupakan sejenak nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappé, Neymar Jr., Erling Haaland, hingga para bintang dunia lainnya. Panggung sepakbola kini sepenuhnya milik tim Spanyol dan Argentina.

Spanyol melangkah ke partai puncak dengan penuh percaya diri setelah menyingkirkan Prancis dan mengatasi Portugal. Berstatus sebagai salah satu tim terbaik dunia serta juara Eropa, La Furia Roja datang dengan skuad yang dipenuhi pemain-pemain elite yang berkiprah di liga-liga terbaik Eropa.

Di antaranya terdapat Lamine Yamal (FC Barcelona), Pedri (FC Barcelona), Gavi (FC Barcelona), Nico Williams (Athletic Club), Dani Olmo (RB Leipzig/Barcelona), Rodri (Manchester City), Fabián Ruiz (Paris Saint-Germain), Mikel Merino (Arsenal), Álex Baena (Atlético Madrid), Pau Cubarsí (FC Barcelona), Robin Le Normand (Atlético Madrid), Marc Cucurella (Chelsea), Dani Carvajal (Real Madrid), Aymeric Laporte, hingga Unai Simón (Athletic Club).

Kombinasi pemain muda berbakat dan pemain berpengalaman menjadikan Spanyol tampil sebagai salah satu tim paling atraktif sepanjang turnamen.

Argentina Tetap Menakutkan

Namun, menganggap enteng Argentina jelas merupakan kesalahan besar.

Tim yang dipimpin Lionel Messi tetap dihuni pemain-pemain kelas dunia yang tersebar di kompetisi elite Eropa. Di antaranya Julián Álvarez (Atlético Madrid), Lautaro Martínez (Inter Milan), Enzo Fernández (Chelsea), Alexis Mac Allister (Liverpool), Rodrigo De Paul (Atlético Madrid), Giuliano Simeone (Atlético Madrid), Cristian Romero (Tottenham Hotspur), Lisandro Martínez (Manchester United), Nahuel Molina (Atlético Madrid), Nicolás Otamendi (Benfica), Valentín Barco, Exequiel Palacios (Bayer Leverkusen), serta penjaga gawang Emiliano Martínez (Aston Villa).

Argentina mencapai final setelah melewati lawan-lawan berat dan kembali menunjukkan mental juara yang telah membawa mereka menjadi kampiun dunia pada edisi sebelumnya.

Final yang Memecah Pilihan, Bukan Persaudaraan

Layaknya perdebatan mengenai berbagai isu nasional yang kerap membelah opini masyarakat, final Piala Dunia 2026 juga membuat publik Indonesia terbagi menjadi dua kubu besar.

Sebagian menjagokan Spanyol dengan permainan kolektif, penguasaan bola, dan regenerasi pemain yang luar biasa. Sebagian lainnya tetap setia mendukung Argentina karena pengalaman, karakter juara, dan magis Lionel Messi.

Bedanya, perdebatan mengenai final Piala Dunia berlangsung dalam suasana yang jauh lebih menyenangkan. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat masyarakat berkumpul, berdiskusi, bercanda, dan menikmati pertandingan sepak bola bersama.

Pilihan Saya: Spanyol

Kalau ditanya siapa yang saya dukung?

Saya memilih Spanyol.

Bukan berarti saya tidak menghormati Argentina. Bahkan saya mengoleksi jersey Tim Tango. Namun setelah menyaksikan penampilan Spanyol sepanjang turnamen, terutama ketika menghadapi Prancis, saya merasa inilah saat yang tepat bagi La Furia Roja untuk merebut kembali mahkota juara dunia.

Spanyol tampil disiplin, cepat, penuh kreativitas, dan memainkan sepak bola yang sangat enak ditonton. Mereka memperlihatkan kualitas sebagai sebuah tim, bukan hanya mengandalkan satu pemain.

Sementara Argentina tetap berbahaya dengan pengalaman dan mental juaranya. Karena itulah laga final ini dipastikan akan menjadi salah satu pertandingan paling dinantikan dalam sejarah sepak bola modern.

Malam final nanti, saya memilih menikmati pertandingan melalui nonton bareng di Plaza Balai Kota Bogor. Kabarnya, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim juga akan hadir untuk menyaksikan laga bersama masyarakat.

Kini pertanyaannya tinggal satu:

Anda berada di kubu Spanyol atau Argentina?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *