Dari Dapur Menjadi Manfaat: Warga Mekarwangi Belajar Kompos Takakura

  • Whatsapp
Peserta, tim pendamping, dan perwakilan UIKA Bogor berfoto bersama seusai kegiatan di Kelurahan Mekarwangi, Minggu (19/7/2026). Foto: Dokumentasi kegiatan.

Oleh:Andreanda Nasution SKM.,M.Kes
Universitas Ibn Khaldun Bogor
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Didukung UIKA Bogor, pelatihan bagi ibu-ibu PKK ini mendorong keluarga mengolah sampah organik sejak dari rumah—untuk tanaman, lingkungan, dan peluang ekonomi warga.

Read More

jurnalbogor.comKulit buah, potongan sayur, dan sisa bahan makanan biasanya langsung berakhir di tempat sampah. Di RT 03/RW 01 Kelurahan Mekarwangi, bahan-bahan itu mulai dipandang dengan cara berbeda: bukan sekadar limbah dapur, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi kompos.

Cara pandang tersebut diperkenalkan melalui pelatihan pembuatan kompos menggunakan metode Takakura yang diikuti masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, pada Minggu, 19 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi iklim dan diseminasi teknologi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang didukung Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Budi Setyo dari UIKA Bogor menyampaikan pentingnya menjadikan teknologi pengomposan sebagai pengetahuan yang benar-benar dipraktikkan warga. Arah kegiatan tidak berhenti pada pelatihan satu kali, tetapi dikembangkan sebagai kampanye dan pendampingan yang melibatkan semakin banyak kelompok masyarakat.

Ibu-ibu PKK ditempatkan sebagai peserta utama karena memiliki peran strategis dalam pengelolaan sampah sehari-hari. Dari dapur, mereka bersentuhan langsung dengan sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik lainnya. Ketika pemilahan dimulai di rumah, sampah organik tidak harus seluruhnya dibawa ke tempat pembuangan akhir.

Metode Takakura diperkenalkan sebagai pilihan pengomposan yang sesuai untuk skala rumah tangga. Melalui pendampingan praktik, peserta diarahkan untuk mengenali bahan organik yang dapat diolah, merawat proses pengomposan, dan memanfaatkan hasilnya untuk tanaman pekarangan maupun tanaman dalam pot.

Kompos yang dihasilkan juga membuka peluang pemanfaatan lebih lanjut. Setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, produk tersebut dapat dikaji untuk dikemas dan dikembangkan menjadi barang bernilai ekonomi. Namun, skema produksi, pengemasan, dan penjualannya masih memerlukan pembahasan lanjutan bersama warga dan tim pendamping.

Program dirancang berlangsung sekitar tiga bulan melalui tiga tahapan yang saling berhubungan. Tahap pertama berisi edukasi mengenai sampah, lingkungan, dan kaitannya dengan perubahan iklim. Tahap kedua berfokus pada praktik pembuatan kompos Takakura, sedangkan tahap ketiga berupa monitoring dan evaluasi untuk melihat perubahan pengetahuan, keterampilan, serta konsistensi peserta.

Target ketercapaian program ditetapkan sekurang-kurangnya 70 persen. Antusiasme peserta pada kegiatan awal menjadi modal penting, tetapi hasil program tetap akan diukur melalui pemantauan yang objektif—termasuk kemampuan peserta mengolah sampah organik secara mandiri dan keberlanjutan praktik tersebut di rumah.

Ke depan, pendekatan kolaboratif akan diperluas dengan melibatkan siswa sekolah, tokoh masyarakat, perangkat RT dan RW, pemerintah kelurahan, mahasiswa, serta unsur universitas. Keterlibatan lintas kelompok dinilai penting agar persoalan sampah tidak dibebankan kepada satu pihak dan perubahan perilaku dapat bertahan lebih lama.

Bagi warga Mekarwangi, pelatihan ini bukan hanya soal menghasilkan kompos. Ia menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru: memilah sejak dari dapur, mengolah yang masih dapat dimanfaatkan, dan mengurangi sampah yang harus dibuang. Dari tangan para ibu, perubahan lingkungan itu mulai tumbuh—satu wadah kompos, satu rumah, dan satu kebiasaan pada satu waktu.

GALERI
Dokumentasi Kegiatan

Ibu-ibu PKK dan warga mengikuti sesi edukasi pengelolaan sampah organik di RT 03/RW 01 Kelurahan Mekarwangi. Foto: Dokumentasi kegiatan.

Budi Setyo dari UIKA Bogor menyampaikan arahan mengenai pentingnya diseminasi teknologi pengomposan berbasis masyarakat. Foto: Dokumentasi kegiatan.

***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *