jurnalbogor.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor menggelar seminar Generasi Aman di Era Digital, di Ruang Serbaguna 1, Gedung Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bogor, Cibinong, Rabu (26/8).
Edukasi pemanfaatan teknologi era digitalisasi secara positif untuk anak itu diikuti oleh 160 peserta dari berbagai organisasi perempuan maupun kepemudaan, yakni Persit, Bayangkari, DWP SKP se-Kabupaten Bogor, TP-PKK Kecamatan se-Kabupaten Bogor, IKIAD, Fatayat NU, Nasyiatul aisyiyah Muhammadiyah, Kohati, KNPI, PMII, Karang Taruna, IPPNU,LK2S dan para pendidik dari Himpaudi, MKKS, PGRI dan IGTKI.
Ketua DWP Dinsos Kabupaten Bogor, Affriliyani Ma’ruf menegaskan, bahwa seminar tersebut dilaksanakan sebagai upaya pihaknya menyelamatkan usia anak terhadap dampak negatif era digital.
“Era digital memang bisa menambah wawasan, memperluas ilmu pengetahuan bahkan memberikan ruang kreativitas yang luar biasa. Namun di samping hal positif itu, ada yang harus diwaspadai bersama khususnya terhadap anak yakni pergaulan yang tidak sehat yang dapat berdampak terhadap pelecehan seksual maupun perilaku negatif yang dapat menghambat tumbuh kembang anak tersebut, ini yang harus diantisipasi bersama,” tegas Affriliyani.
Istri dari Kepala Dinsos Kabupaten Bogoe Farid Ma’ruf itu mengatakan, bahwa pihaknya mendapati data memprihatinkan kasus yang melibatkan anak pada Tahun 2025 lalu, dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB) Kabupaten Bogor.
“Dari data yang saya peroleh dari DP3KB Kabupaten Bogor tahun 2025 tercatat kasus kekerasan seksual pada anak 179 dari jumlah kasus 330. Sementara untuk kekerasan seksual pada perempuan 25 dari jumlah kasus 179. Sementara Tahun 2026 periode Januari hingga Juli itu terdapat kasus pelecehan seksual pada perempuan 20 dari 132 kasus dan pelecehan seksual pada anak 129 dari jumlah kasus 224. Terjadi kenaikan jumlah kasus yang sangat menghawatirkan, dan ini harus disikapi oleh semua pihak,” kata Affriliyani.
Lebih lanjut ia memaparkan, kegiatan yang diinisiasi pihaknya menjadi trigger terhadap organisasi yang terlibat dalam seminar yang diisi oleh narasumber Nurul Eka Hidayati, Msi Sekjen Konsorsium Pekerja Sosial Masyarakat, Ust. Jarkasih pimpinan Ponpes Adab Tuhfatul Islam sekaligus aktivis Anti LGBT dan Supiah Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga sekaligus ketua Ikatan Pekerja Sosial masyarakat.
“Melindungi anak bukan hanya tanggung jawab orang tua tetapi seluruh elemen masyarakat. Keluarga adalah benteng pertama dalam membangun karakter anak, dan sekolah menjadi tempat membentuk pengetahuan dan nilai nilai kehidupan. Kegiatan hari ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan dan seluruh elemen masyarakat dalam membangun generasi yang sehat, berakhlak, cerdas dan aman ditengah perkembangan era digital,” tandasnya. (Ando)






