Tentang Hutan Kota, Alam, dan Cara Urang Sunda Memandang Kehidupan

  • Whatsapp
Ilustrasi Hutan Kota. Foto: FK3I

jurnalbogor.com – Urang Sunda jaman dahulu belum mengenal istilah “Hutan Kota”, tapi cara hidup mereka sebenarnya sudah mengajarkan bagaimana alam harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya untuk tetap terjaga keseimbangan kehidupan di bumi.

Read More

Jaman kekinian, dalam budaya Sunda, kita sering mendengar: “Leuweung ruksak, Cai beak, Manusa balangsak” (Hutan rusak, Air hilang, Manusia pun ikut sengsara). Kalimat itu sederhana, tapi makin hari terasa semakin nyata.

Hari ini kita ingin membangun Hutan Kota. Menanam pohon di tengah kawasan yang semakin panas, padat, dan penuh persoalan lingkungan. Dan itu langkah yang sangat baik, tapi setelah melihat lebih dalam, ternyata hutan tidak pernah benar-benar lahir hanya dari pohon.

Sebab, hutan tumbuh dari kehidupan yang saling terhubung, dari tanah yang masih sehat, dari air yang masih bisa masuk ke bumi, dari burung yang masih mau datang dan bernyanyi di pagi hari, dari capung yang masih beterbangan di dekat air, dan dari Manusia yang mulai sadar bahwa membuang sampah sembarangan berarti sedang merusak rumah hidupnya sendiri.

Urang Sunda dahulu punya cara pandang yang sangat halus terhadap alam. Gunung tidak hanya dilihat sebagai tanah tinggi, sungai bukan hanya saluran air, Hutan bukan sekadar kumpulan kayu. Semua dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Maka itu pada jaman dahulu sangat populer istilah: “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh”.

Bukan hanya antar manusia, tapi juga hubungan manusia dengan alamnya. Kadang kita terlalu fokus menanam pohon, sampai lupa menyiapkan kehidupan untuk pohon itu sendiri. Padahal pohon juga perlu tanah yang hidup, air yang cukup, udara yang baik, dan Lingkungan yang tidak dipenuhi sampah.

Kalau pohon ditanam di tengah tanah yang keras, panas, penuh limbah dan sampah tanpa kehidupan lain di sekitarnya, niscaya yang tumbuh hanya “tanaman ditengah kota”, belum menjadi hutan. Karena hutan sejatinya adalah tempat kehidupan saling terhubung yang terdiri dari pohon, semak, daun gugur yang kembali menjadi tanah, kicauan burung, bertebaran serangga kecil, dengan air yang mengalir perlahan menyerap kedalam bumi, serta manusia yang konsisten menjaganya.

Membangun Hutan Kota itu sebenarnya bukan sedang membuat taman besar. Kita sedang belajar mengembalikan adab terhadap alam, belajar lagi bahwa Bumi bukan warisan yang bisa dihabiskan, tapi titipan yang harus dijaga. Mungkin karena itu, pembangunan Hutan Kota tidak cukup hanya dengan proyek penanaman. Karena perlu budaya menjaga, pendidikan lingkungan, pengelolaan sampah yang baik, dan rasa memiliki dari masyarakatnya.

Hal tersebut supaya nanti anak-anak generasi kita bukan hanya melihat pohon berdiri di pinggir jalan. Tapi, benar-benar merasakan kehidupan, mendengar suara burung, merasakan udara lebih sejuk, melihat kupu-kupu datang kembali, dan memahami bahwa kota pun sebenarnya bisa hidup berdampingan dengan alam.

Karena pada akhirnya: “Leuweung Lain Saukur Tutuwuhan, tapi Tempat Hirup nu Kudu Dijaga Babarengan” (Hutan Bukan Sekadar Tumbuhan, tapi Ruang Kehidupan yang Harus Dijaga Bersama).

Hal-hal yang telah di urai dalam artikel ini merupakan sumbangsih pemikiran dari aktivis yang ingin Hutan Kota bukan hanya dijadikan istilah dalam program pembangunan pemerintah, melainkan menjadi keinginan yang kuat untuk konsisten mewujudkannya secara bersama-sama dengan masyarakat dan swasta dalam skema aksi kolaborasi.

Dikutip dari akun resmi Jabarprov pada 11 Desember 2025, terkait Pemerintah Kabupaten Bogor mengusung pelaksanaan pembangunan Hutan Kota Kabupaten Bogor untuk mempercepat perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di 40 kecamatan. Aktivis pun memberikan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor untuk konsisten mewujudkan program tersebut hendaknya luas RTH dengan ketentuan dalam Satu Kawasan (Zona) minimal 20% dari luas wilayah masing-masing kecamatan, bukan minimal satu hektare luas di setiap kecamatan. (*)

Penulis: Herry Trijoko, dan Editor: Sabilillah, Aktivis Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia, Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak (FK3I) Regional Gedepahala

-.-

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *