Produk Semprong Tajur Bidik Pasar Ritel

  • Whatsapp
Lurah Tajur Ita Juita mendorong pengembangan UMKM dan penguatan program kesehatan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor.

jurnalbogor.com – Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, terus mengoptimalkan potensi ekonomi lokal sekaligus memperkuat pelayanan masyarakat. Mulai dari pengembangan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penataan kebersihan lingkungan, hingga pemenuhan gizi anak berisiko stunting menjadi fokus yang digarap melalui kolaborasi lintas sektor.

Lurah Tajur, Ita Juita, mengatakan, wilayah yang dipimpinnya memiliki luas sekitar 45 hektare dengan cakupan enam rukun warga (RW) dan 25 rukun tetangga (RT). Wilayah tersebut membentang dari kawasan sebelum Ekalokasari hingga perbatasan Tajur di sisi kiri jalan utama. Sementara itu, sisi kanan jalan masuk wilayah Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan.

Read More

Menurut Ita, dukungan pengurus RT dan RW serta masyarakat menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan di wilayahnya.

Sejak dilantik sebagai Lurah Tajur pada 11 Februari 2026, Ita mengaku terus berupaya menjalankan tugas dengan dukungan berbagai elemen masyarakat. Kebersamaan dan sinergi dengan perangkat wilayah menjadi kekuatan dalam menjalankan program kelurahan.

Salah satu perhatian yang kini digencarkan adalah menjaga kebersihan lingkungan. Setelah menggelar kerja bakti massal pada 17 Oktober lalu, pihak kelurahan memasang sejumlah spanduk edukasi dan larangan membuang sampah sembarangan di titik-titik strategis.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan serta mencegah kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya.

Selain penataan lingkungan, Kelurahan Tajur juga mendorong pengembangan UMKM lokal agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah kue semprong buatan Premi, yang dinilai memiliki cita rasa renyah dan berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan wilayah.

Selain kue semprong, terdapat pula produk olahan kecap Bemo dan kerajinan Tasik Emas yang menjadi bagian dari potensi usaha lokal.

Ita mengatakan, pihak kelurahan berupaya membantu memperkenalkan dan memasarkan produk-produk tersebut agar semakin dikenal masyarakat, termasuk membuka peluang pemasaran melalui toko-toko ritel.

“Kami bangga dengan produk UMKM lokal, seperti semprong buatan Bu Premi yang rasanya renyah. Kami ingin membangkitkan semangat para pelaku usaha agar produk dari Tajur semakin dikenal luas,” kata Ita.

Ia juga mengajak masyarakat dan calon pembeli yang tertarik dengan produk semprong tersebut untuk menghubungi pihak Kelurahan Tajur guna memperoleh informasi lebih lanjut.

Di bidang kesehatan, Kelurahan Tajur turut memperkuat upaya penanganan anak dengan kecenderungan risiko stunting (KRS). Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak swasta dan pelaku usaha, di antaranya Boxies, Hotel Potter, dan Juliana.

Dalam kolaborasi tersebut, pemenuhan kebutuhan gizi anak dilakukan secara gotong royong. Dukungan susu diberikan pihak hotel, sedangkan bantuan makanan bergizi melibatkan Juliana dan Boxies.

Selain bantuan pemenuhan gizi, pendataan dan intervensi kesehatan juga terus dilakukan untuk memastikan anak-anak yang membutuhkan mendapatkan perhatian. Ita menyebut, capaian penanganan kesehatan di wilayahnya saat ini telah mendekati 80 persen.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi penting agar program penanganan risiko stunting dapat berjalan berkelanjutan dan menjangkau anak-anak yang membutuhkan dukungan.

Ita berharap, sinergi antara pemerintah kelurahan, pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, pihak swasta, serta insan pers dapat terus diperkuat.

(FDY)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *