Hari Kanker Sedunia 2026, “Bersatu Dalam Keunikan”

  • Whatsapp
dr. Tutik Nur' Ayni, Sp.P.A ((Foto: IST)

Oleh: dr. Tutik Nur’ Ayni, Sp.P.A
(Dokter Spesialis Patologi Anatomik RSUD Raden Moh.Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor)

jurnalbogor.com – Mendengar kata “Cancer” atau kanker terasa menyeramkan bagi sebagian besar orang. Ya, nama ini berasal dari bahasa Yunani “Karkinos” yang berarti kepiting. Kanker secara istilah adalah kelompok penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel tubuh yang tidak terkendali dan agresif, merusak jaringan sekitar, dan mampu menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Read More

Seperti sifat asal namanya, sel kanker dapat melekat kuat dan merusak seperti capit kepiting. Istilah lain untuk kanker adalah tumor ganas. Tumor secara bahasa adalah pembengkakan atau benjolan, yang dalam hal ini mengacu pada pertumbuhan sel tubuh yang tidak terstruktur dan tidak mempunyai manfaat dalam tubuh. Sehingga tumor dapat dibagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas/ kanker.

Perbedaan keduanya yaitu tumor jinak tidak merusak jaringan sekitar dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain, meskipun ukurannya dapat terus bertambah seiring berjalannya waktu. Penentuan jinak dan ganas ini didasarkan pada perubahan fisik yang dapat dilihat langsung oleh mata misalkan saat dokter bedah memeriksa suatu benjolan, dan perubahan histopatologi yang merujuk pada perubahan struktur dan morfologi sel yang dilihat dibawah mikroskop, dalam hal ini dokter patologi anatomik yang mendiagnosis dengan melihat riwayat keseluruhan pasien tersebut.

Penyakit kanker ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari usia kanak-kanak sampai usia tua, dengan jenis yang berbeda-beda yang biasanya sesuai dengan kelompok usia penderitanya. Seperti kelompok usia kanak-kanak dan remaja (0-19 tahun), jenis kanker tersering menurut GLOBOCAN 2022 adalah Leukemia atau kanker darah, tumor otak, dan tumor kelenjar getah bening. Sedangkan jenis kanker pada usia dewasa dengan insiden tersering di Indonesia adalah kanker payudara, diikuti dengan kanker paru-paru, dan kanker mulut rahim/ serviks.

Stigma yang beredar di masyarakat memang apabila pasien sudah terkena kanker maka pengobatan pun terbilang sulit, memerlukan waktu yang lama, dan biaya yang tidak sedikit. Namun secercah harapan sebaiknya tetap ada dalam situasi apa pun. Perkembangan besar dalam hal skrining/deteksi dini, diagnosis, dan pengobatan kanker telah terjadi selama hampir 250 tahun terakhir, pada penyakit yang telah dikenal umat manusia selama ribuan tahun ini.

Seperti Percivall Pott tahun 1775, yang melaporkan paparan lingkungan para pekerja cerobong asap yang sering terkena jelaga dengan tingginya kejadian kanker kulit pada scrotum. Penemuan penting lainnya seperti leukosit (cikal leukemia) oleh Rudolf Virchow, sinar X oleh Wilhelm Roentgen, radioaktif yang digunakan untuk terapi radiasi oleh Marie dan Pierre Curie, laporan jenis kanker yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anaknya seperti pada retinoblastoma, penemuan Pap smear dan vaksin untuk kanker mulut rahim/ serviks, kemoterapi, hormonal terapi, imunoterapi, perkembangan pembedahan dan anestesi, hubungan merokok dengan kejadian kanker paru, hubungan EBV virus dengan kejadian Burkit lymphoma, bakteri H. pylori dengan kejadian kanker lambung, dan masih banyak lagi.

Sedikit melihat sejarah kanker mulut rahim/ serviks yang membentang dari zaman Yunani kuno, Hippocrates (400 SM) menyebutnya sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan hingga pengembangan Pap smear tahun 1941 oleh George Papanicolaou yang secara drastis mengurangi angka kematian akibat kanker pada wanita di Amerika Serikat dan negara-negara maju. Penemuan human papillomavirus (HPV) yang menjadi agen penyebab tahun 1976 oleh Harald zur Hausen. Tonggak penting adalah terbentuknya cell line HeLa tahun 1951, persetujuan vaksin HPV untuk mencegah kanker mulut rahim/ serviks tahun 2006, dan pergeseran skrining/ deteksi awal dari berbasis sitologi (Pap smear) ke pengujian DNA HPV yang lebih relevan.

Tamoxifen adalah terapi endokrin penting yang disetujui FDA yang mengubah kanker payudara dari diagnosis fatal menjadi kondisi yang dapat dikelola untuk jutaan orang. Awalnya dikembangkan tahun 1960-an sebagai kontrasepsi hormonal, kemudian digunakan kembali untuk memblokir reseptor estrogen dalam sel tumor, menjadikannya standar untuk pengobatan dan pencegahan kanker payudara dengan reseptor ER-positif.

Penelitian terkait kanker terus menemukan cara-cara baru untuk mencegah, mendeteksi, dan mengobati serta memenuhi kebutuhan para penyintas kanker. Pencapaian melalui penelitian dan perkembangan ini memungkinkan masa depan yang lebih penuh harapan.

Hari kanker sedunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari, bukanlah sekedar seremonial, melainkan menulis ulang untuk melihat masa depan yang lebih baik, melihat harapan, dan melihat setiap pribadi manusia dengan kebutuhan uniknya – kisah tentang duka, rasa sakit, penyembuhan, ketahanan, cinta, dan banyak lagi. Kesadaran untuk menyayangi diri sendiri, mendeteksi sedini mungkin perubahan yang ada pada tubuh, dan kepercayaan penuh terhadap tindakan medis yang akan dilaksanakan, dapat memberikan kesempatan untuk “survive” dan merupakan ikhtiar yang sebaik-baiknya. World Cancer Day 2026 “United by Unique”.

***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *