Ramadhan, Penjual Makanan Sumbang Limbah B3

  • Whatsapp
Kemasan plastik digunakan penjual makanan saat Ramadhan. (IST)

jurnalbogor.com – Penggunaan wadah berbahan plastik dan styrofoam semakin tidak terkontrol di bulan Ramadhan tahun ini. Apabila tidak segera dikendalikan penggunaannya akan menambah permasalahan lingkungan hidup.

Terpantau, penggunaan kantong plastik dan styrofoam oleh para pedagang mengalami peningkatan di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Hal ini pun menuai kritik dari aktivis lingkungan hidup bidang Limbah B3.

Read More

Praktisi Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dwi Retnastuti menyampaikan keprihatinan penggunaan kantong plastik dan styrofoam masih digunakan oleh para pedagang, padahal kedua wadah berbahan plastik tersebut berpotensi menyumbang pencemaran lingkungan hidup yang cukup berbahaya. 

Dwi Retnastuti berharap pemerintah setempat dapat bergerak secara terus menerus untuk mensosialisasikan bahaya penggunaan bahan plastik untuk makanan yang berpotensi meningkatnya volume limbah B3.

Menurutnya, styrofoam sangat berbahaya karena dia termasuk sampah B3 rumah tangga yang cukup berbahaya, pada saat dia terkena panas akan ada racun namanya stiren yang cukup berbahaya bagi tubuh kita seandainya berpindah ke makanan.

Banyaknya kemasan plastik dalam penjualan makanan untuk berbuka puasa itu juga akan berdampak buruk, peningkatan jumlah  sampah setiap bulan Ramadhan mencapai 10 sampai 12% dan ini akan menjadi beban untuk TPA.

“Dan, untuk makanannya sendiri juga berbahaya, karena bisa saja makanannya akan tercemar mikroplastik,” ungkap Dwi Retnastuti, aktivis WALHI Nasional yang fokus pada Limbah B3, Senin (1/3/2026).

Ia mengungkapkan kemasan kantong plastik atau kresek juga meningkat, karena rata-rata setiap pembelian makanan berbuka puasa pasti akan menggunakan wadah menggunakan kantong plastik atau kresek.

“Hal yang harus dilakukan selama bulan ramadhan semestinya belanja dengan membawa kantong sendiri, membeli untuk makanan pembuka sebaiknya bawa wadah sendiri, dan kurangi membuang buang makanan jangan sampe makanan kita akan menambah food waste jadi tambah banyak,” ajaknya.

Terpisah, seorang penjual takjil untuk berbuka puasa, Ny. Elah (31) mengaku praktis menggunakan kantong plastik dan styrofoam untuk mengemas makanan yang dijualnya.

“Pakai plastik dan styrofoam itu praktis, penjual makanan yang lainnya juga pakai itu,” ucapnya saat menjajakan makanan di Pasar Babakan Madang, Senin (1/3).

Sementara, penjual ayam potong di Desa Sumurbatu, Asep (44) mengatakan dirinya setuju dengan mengurangi pencemaran lingkungan hidup dari limbah B3.

“Tapi kan tidak ada wadah yang praktis dan murah selain kantong plastik. Kalau menggunakan daun pisang kurang praktis atau wadah lainnya lebih mahal. Lagi pula hampir semua pembeli tidak bawa wadah sendiri, jadi saya sediakan kantong plastik untuk membungkus ayam potong,” ujarnya.

(say/cc)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *