Pemenuhan Hak Anak, TPA Didorong Hadir di Desa

  • Whatsapp
Kepala OPD KB Kota Semarang, Dr. dr. Eko Krisnarto, Sp.KK, saat memberikan edukasi mengenai pentingnya kehadiran TPA di desa.

jurnalbogor.com – Tempat penitipan anak (TPA) didorong hadir di desa/kelurahan, perkantoran, hingga kawasan industri untuk membantu orang tua bekerja tanpa mengabaikan kebutuhan pengasuhan anak.

Kepala OPD KB Kota Semarang, Dr. dr. Eko Krisnarto, Sp.KK, mengatakan pengasuhan anak pada masa usia emas membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan.

Read More

“Pentingnya dekat dengan anak bukan hanya secara fisik, tetapi juga membersamai,” tuturnya.

Pengasuhan Bukan Hanya Tanggung Jawab Ibu
Eko menegaskan, pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Peran ayah juga penting dalam membangun komunikasi, memberikan perhatian, dan menjaga kesehatan mental anak.
Kampanye #AyahWajibHadir dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan perlu menjadi perhatian bersama.

“Walaupun ada ayah, tetapi anak tidak mendapat efek dari kehadiran ayahnya. Jangan sampai warga kita mengalami hal seperti itu,” ujarnya.

Menurut Eko, keluarga yang kuat menjadi benteng pertama bagi anak dalam menghadapi pengaruh lingkungan, teknologi, dan media sosial.

Perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah mengakses berbagai informasi melalui gawai. Karena itu, orang tua perlu mendampingi anak, memahami aktivitas digitalnya, serta membangun komunikasi terbuka.
Eko menekankan bahwa komunikasi harus dibarengi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kuncinya komunikasi harus terbuka dan butuh teladan, bukan hanya ucapan,” imbuhnya.

Keberadaan TPA dinilai perlu menjadi bagian dari ekosistem pengasuhan dan perlindungan anak, bukan sekadar fasilitas tambahan bagi orang tua yang bekerja.

Layanan penitipan anak yang aman dan layak didorong hadir di desa/kelurahan, perkantoran, serta kawasan industri untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Dengan fasilitas yang berkualitas dan dekat dengan aktivitas orang tua, kebutuhan pengasuhan diharapkan dapat terpenuhi tanpa menghambat produktivitas ekonomi keluarga.

Orang tua pun tidak harus memilih antara bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan anak mendapatkan pengasuhan yang layak.

Pendampingan Keluarga Berbasis Data
Pembangunan keluarga juga diarahkan pada pendampingan berbasis data agar program yang dijalankan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Sejumlah program quick win Kemendukbangga meliputi Genting, Tamasya, GATI, dan Sidaya. Pelaksana lapangan juga dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program tersebut turut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta anak bawah dua tahun (baduta) yang belum mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD).

Eko menyinggung kasus pasangan yang melahirkan di kamar mandi hingga bayinya meninggal sebagai pengingat pentingnya kepedulian terhadap persoalan keluarga.

Ia mengajak masyarakat meningkatkan pengetahuan tentang keluarga dan lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya.

“Mari sama-sama kita perkuat pengetahuan tentang keluarga, lebih peduli dengan keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai kejadian itu terjadi lagi,” tuturnya.

Menurutnya, pencegahan persoalan keluarga perlu dilakukan melalui penguatan komunikasi, pendampingan, dan kepedulian lingkungan, bukan hanya setelah masalah terjadi.

Pembangunan keluarga tidak hanya menyangkut ketahanan ekonomi, tetapi juga pemenuhan hak anak atas pengasuhan yang layak, perhatian orang tua, lingkungan aman, serta kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Keluarga tangguh membutuhkan keterlibatan ayah dan ibu, lingkungan yang peduli, serta kebijakan yang mendukung pengasuhan anak seiring dengan aktivitas ekonomi keluarga.

(FDY)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *