Bentuk Tim Investigasi Kemunculan Asap

  • Whatsapp
ilustrasi

Polda Jabar Dikabarkan Datangi UBPE PT Antam

jurnalbogor.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dapil Kabupaten Bogor Doni Hutabarat meminta dibentuk tim khusus investigasi oleh Polda Jabar dan hasil investigasinya diumumkan ke publik. Peristiwa yang nyaris serupa pernah terjadi di wilayah itu pada 2004 dan 2012 yang menelan korban jiwa.

Read More

“Harapannya aparat hukum bentuk tim investigasi. Tidak bisa dibiarkan. Puslabfor Polda Jabar datang dan hasilnya mereka harus sampaikan ke publik. Selama ini hasil investigasi itu tidak pernah disampaikan ke publik. Padahal sebelumnya sudah pernah terjadi insiden di Antam di 2004 dan 2012 yang menelan korban jiwa. Tapi penjelasannya tidak pernah terbuka ke publik,” tegas Doni Hutabarat kepada Jurnal Bogor, Selasa (20/1/2026).

Sebelumnya pada Kamis (15/1/2026), Anggota DPR RI Fraksi PDIP dapil Kabupaten Bogor, Adian Napitupulu melakukan inspeksi mendadak ke lokasi kejadian munculnya asap misterius dari dalam lubang pertambangan UBPE PT Antam Tbk.

Hasilnya, ada dugaan ketidakjujuran PT Antam terkait jumlah korban jiwa. Meski perusahaan mengklaim nihil. Faktanya ada 6 warga masih terjebak di lubang tambang emas tanpa izin yang masuk ke wilayah operasional UBPE PT Antam Tbk di pegunungan Pongkor, Desa Bantar Karet Kecamatan Nanggung.

Doni Hutabarat mengatakan, asap yang yang keluar dari dalam lubang seperti asap fogging dan diduga bukan berasal dari kebakaran kayu. Bau asap pembakaran kayu itu khas berbeda dengan asap yang ada saat ini yang seperti asap fogging mengusir nyamuk demam berdarah.

“Keterangan Antam dan pemerintah mengaku bahwa asap itu kebakaran dari kayu penahan di dalam lubang. Tapi kita cek lapangan asap itu bukan seperti bau asap terbakar. Itu seperti asap fogging untuk mengusir nyamuk tapi sangat pekat,” tegas Doni.

Hingga kini, diduga masih ada 3 orang korban jiwa yang belum terevakuasi. “Sampai saat ini info yang saya terima masih ada tersisa 3 korban jiwa yang belum terevakuasi karena lokasinya agak jauh dan sempit. Bagaimanapun korban harus dievakuasi. Mereka manusia yang harus dievakuasi, dimakamkan secara layak secara kemanusiaan,” tegas Doni.

Doni menilai konflik antara gurandil dan UBPE PT Antam di Pegunungan Pongkor Desa Bantar Karet akan terus terjadi selama masyarakat yang hidup di sana tidak diberi ruang untuk hidup lebih layak.

“Mau seketat apapun yang dilakukan aparat hukum selagi tidak ada ruang untuk masyarakat setempat, tidak akan berhenti. Selama mereka masih hidup dan butuh makan mereka akan bertarung di dalam lubang. Sampai saat ini banyak masyarakat banyak yang susah. Infrastrukturnya baik? Nggak juga,” kata Doni.

Ironisnya, lanjut Doni, PT Antam Tbk mendapat keuntungan besar dari pertambangan di Pongkor Desa Bantar Karet. “Antam ini berdiri tahun 1973, kemudian sempat tutup dan buka lagi di tahun 1998. Tapi Perusahaan itu hadir nggak untuk masyarakat sekitar? Minimal rakyatnya diakomodir. Butuh tenaga kerja. Seberapa besar perusahaan libatkan SDM setempat?” ujarnya.

Sebelumnya PT Antam Tbk melalui Java Region, CSR and Sub Division Head PT. Antam UBPE Pongkor, Agustinus Toko Susetio dalam pernyataan resminya membenarkan adanya korban jiwa dalam insiden kepulan asap tersebut. Meski begitu para korban bukan merupakan Karyawan PT. Antam melainkan para penambang emas ilegal atau yang biasa disebut Gurandil.

Agustinus menyampaikan bahwa tim Gabungan yang terdiri dari Tim Antam, kepolisian, BPBD hingga Damkarmat Kabupaten Bogor  bekerjasama dalam melakukan evakuasi korban di dalam lubang tikus Cepu.

“PT. Antam menempatkan aspek kemanusiaan dan keselamatan sebagai prioritas utama dalam penanganan di tambang emas pongkor,” ungkap Agustinus Toko Susetio kepada wartawan pada, Senin 19 Januari 2026.

Ia mengatakan bahwa 3 orang korban berhasil di evakuasi merupakan warga non-operasional yang seharusnya tidak berada di area penambangan. Ketiganya merupakan warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya.

“Korban yang telah dievakuasi telah diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.

Terkait penyebab munculnya kepulan asap, pihak Antam masih melakukan investigasi bersama aparat dan otoritas berwenang untuk mengetahui penyebabnya.

“Kami berkomitmen menjalankan penanganan ini secara profesional, humanis, dan selalu mengedepankan aspek keselamatan,” katanya.

Peristiwa kepulan asap terjadi di tambang bawah tanah, tepatnya di Level 600 Ciurug, pada Selasa dini hari, 13 Januari 2026 sekitar pukul 00.30 WIB. Asap tersebut diduga berasal dari terbakarnya kayu stapling atau kayu penyangga di area tambang. Kondisi mengindikasi adanya peningkatan konsentrasi gas karbon monoksida (CO) hingga 1.200 ppm, jauh di atas ambang batas aman manusia yang berada di angka 25 ppm. (Ando | Her)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *