jurnalbogor.com – Kalimat “Aku baik-baik saja” kerap menjadi jawaban ketika seseorang sebenarnya sedang lelah, pikirannya penuh, atau emosinya mulai sulit dikendalikan. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Book Sharing & Emotional Healing Series #2 “Atasi Stres: Beri Jeda, Biar Lega” yang mempertemukan ibu dan remaja putri di Kota Bogor, Minggu (20/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama 180 menit di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor ini diikuti 50 peserta muslimah, terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri.

Acara dipandu oleh Lili Marliyuana, Certified Self Healing Professional dan Emotional Healing Therapist, sekaligus Founder Muslimah Healing Circle, bersama co-facilitator Nena Nurjanah, Owner & Founder Titik Kumpul Trip.
Kegiatan ini tidak sekadar mengajak peserta memahami apa itu stres. Peserta juga diajak mengenali tanda-tanda ketika tubuh dan emosi mulai berada dalam kondisi penuh, kemudian mempraktikkan cara memberikan jeda dan mengatur respons diri.
Lili Marliyuana mengatakan bahwa persoalan stres sering kali baru mendapat perhatian setelah seseorang merasa benar-benar kewalahan.
“Stres kadang tidak datang sekaligus. Ia menumpuk sedikit demi sedikit. Ketika tubuh sudah lelah, pikiran penuh, dan emosi mudah meledak, belum tentu kita terlalu lemah. Bisa jadi kita hanya terlalu lama tidak memberi jeda,” ujar Bunda Lili.
Menurutnya, kemampuan mengenali sinyal stres menjadi penting karena seseorang sering kali lebih sibuk memenuhi tuntutan di luar dirinya daripada memperhatikan kondisi diri sendiri.
“Tubuh sebenarnya sering memberi tanda. Tetapi kita terbiasa mengabaikannya karena merasa masih harus menyelesaikan banyak hal. Sampai akhirnya hal kecil pun bisa terasa sangat berat,” katanya.
Bukan Sekadar Bicara, Peserta Diajak Praktik
Berbeda dengan kegiatan yang hanya berisi pemaparan materi, Book Sharing & Emotional Healing Series #2 memberikan porsi cukup besar untuk praktik.
Peserta diajak untuk mengenali beban yang sedang dirasakan, memahami respons tubuh dan emosi, serta berlatih melakukan regulasi diri.
Pendekatan tersebut dilakukan agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi kondisi ketika stres mulai meningkat.
“Bukan untuk menjadi perempuan yang tidak pernah stres. Itu tidak realistis. Yang ingin kita bangun adalah kemampuan untuk mengenali apa yang terjadi pada diri dan mengetahui apa yang penting dilakukan ketika stres datang,” jelas Bunda Lili.
Ia menambahkan, memberikan jeda tidak sama dengan menghindari masalah.
“Jeda bukan berarti menyerah. Jeda memberi kita kesempatan untuk berhenti dari reaksi otomatis, mengambil napas, memahami apa yang sedang terjadi, lalu memilih respons yang lebih tepat,” ujarnya.
Ibu dan Remaja Putri Belajar dalam Satu Ruang
Menariknya, kegiatan ini secara khusus mempertemukan dua kelompok perempuan dari generasi berbeda: ibu dan remaja putri.
Keduanya memiliki konteks kehidupan yang berbeda, tetapi sama-sama dapat menghadapi tekanan dan tuntutan dalam keseharian.
Ibu dapat menghadapi berbagai tuntutan dalam keluarga maupun pekerjaan. Sementara remaja putri berada dalam fase kehidupan yang juga penuh perubahan dan tuntutan, baik dalam pendidikan, pertemanan, keluarga, maupun proses mengenali dirinya sendiri.
Pertemuan dua generasi tersebut diharapkan membuka ruang bahwa berbicara tentang stres dan kesehatan emosional bukan hanya kebutuhan orang dewasa.
“Kadang ibu merasa anaknya belum punya beban sebesar dirinya. Sebaliknya, remaja bisa merasa orang dewasa tidak memahami apa yang sedang mereka alami. Karena itu, penting ada ruang di mana keduanya sama-sama belajar mengenali dan mengelola emosinya,” tutur Bunda Lili.
Memberi Jeda Sebelum Terlambat
Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengubah cara pandang terhadap stres. Stres tidak selalu harus dilihat sebagai tanda kelemahan, tetapi dapat menjadi sinyal bahwa seseorang perlu berhenti sejenak dan memperhatikan kondisi dirinya.
Bunda Lili mengajak para peserta untuk tidak menunggu sampai benar-benar kewalahan baru mulai memberikan perhatian kepada diri sendiri.
“Sudah terlalu lama kuat? Mungkin sekarang waktunya memberi jeda. Duduk bersama, membaca, merasakan, dan belajar pulang kepada diri dengan lebih tenang. InsyaAllah,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang edukasi dan refleksi yang lebih dekat dengan keseharian Muslimah.
Pesan yang dibawa sederhana: Atasi stres: beri jeda, biar lega
Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukan kehidupan yang bebas dari tekanan, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, mengenali apa yang sedang terjadi, dan kembali melangkah dengan lebih sadar.
(Wawan Hermawanto)






