Petanda Alam Marah

  • Whatsapp
Pohon tumbang setelah diterpa angin kencang di kawasan Pakansari, Cibinong, Kamis (12/2/2026).

Bencana Banjir dan Angin Ribut Hanya Terjadi Dekat Pusat Kekuasaan 

jurnalbogor.com – Bencana banjir dan angin ribut menerjang wilayah Kabupaten Bogor. Petaka tersebut seperti petanda bahwa alam sedang marah. Sebab, peristiwa dahsyat ini  hanya terjadi dekat pusat kekuasaan negara dan daerah. 

Read More

Musibah banjir terjadi di Bojong Koneng, Babakan Madang, tak jauh dari kediaman Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Derasnya arus banjir membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut.Peristiwa itu terjadi pada Rabu (11/2) pukul 16.06 WIB. 

Sehari kemudian, pada Kamis (12/2/2026) siang,  hujan deras disertai angin puting beliung memporak-porandakan kawasan Stadion Gelora Pakansari, Cibinong. Area ini berada di pusat Ibukota Kabupaten Bogor, yang dekat dengan kediaman Bupati Rudy Susmanto.

Menurut Kyai Haji Nurul Atiq Tadjudin, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Bogor itu bukan klenik, tetapi fakta alam yang sudah bersuara dan menunjukan kekuasaannya. Kata dia, harmoni antara manusia dengan alam ada yang terganggu ,karena keserakahan dan keras kepalanya pejabat dalam menggunakan kewenangan memerintah dan menerbitkan kebijakan. 

“Rangkaian bencana alam itu bukan terjadi tanpa sebab, jelas ada yang membuat alam di Bogor murka. Padahal Desa Cijayanti adalah pintu masuk ke kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang. Sementara angin puting beliung yang hanya ada di sekitar Stadion Gelora Pakansari juga jadi petanda alam ke Bupati dan Wakil Bupati Bogor,” kata Kyai Nurul Atiq yang menelepon Jurnal Bogor sesaat setelah terjadi angin puting beliung di Pakansari, Kamis siang (12/2/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren At Taqwa Bekasi ini menceritakan, ada yang salah dalam mengelola kekuasaan di Bogor dan mungkin juga termasuk pemimpin nasional. Padahal, lanjutnya, paku-paku bumi secara spiritual ada di Bogor. 

“Orang-orang soleh yang tidak masyhur banyak di Bogor, tapi para penguasanya justru mengundang orang yang dianggap soleh namun punya popularitas dan masyhur di kalangan pejabat dan masyarakat,” ujar Kyai Atiq. 

Kyai Atiq mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, kekuasaan militer selalu merangkul para pemuka agama dari pendatang sementara para spiritualis dan pemuka agama yang sudah menjaga berdirinya kondusivitas, keamanan dan kenyamanan alam Nusantara justru diabaikan dan ditinggalkan. 

“Padahal para pemuka agama dan spiritualis Nusantara itu tidak pernah mendatangi kemasyhuran, popularitas apalagi kegilaan menumpuk harta termasuk memamerkan kekayaan. Para kyai dan alim ulama itu justru hanya duduk tekun di ruang-ruang kecil dan tersembunyi, namun doanya mampu menembus langit dan langsung dikabul Allah SWT. Para pemuka agama yang datang ke penguasa hanya akan membawa malu bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya,” kata Kyai Atiq.

Selain itu, Kyai Atiq membaca bahwa saat ini perputaran uang hanya ada di segelintir orang yang dekat dan sedang berkuasa. Sementara kebijakan yang dihasilkan mereka justru merugikan masyarakat kecil, termasuk orang-orang soleh yang mencari uang demi sesuap makan namun tak pernah melepas tasbih dan berzikir dalam setiap aktivitas mereka. 

“Kebijakan MBG ini juga merugikan pedagang kecil di sekitar sekolah. Pedagang cilok, cilor di sekitar sekolah itu jangan dianggap sekedar pedagang biasa. Justru sebagian di antara mereka ada yang tidak pernah lepas berzikir dan bertasbih. Doa-doa mereka langsung tembus langit. Pendapatan mereka sekarang sangat menurun. Siapa yang perhatikan mereka?” kata Kyai yang punya sejarah perang melawan Sekutu Belanda dan kemudian dijadikan puisi terkenal Chairil Anwar berjudul Karawang Bekasi.

Peristiwa banjir yang masuk ke dalam Istana Merdeka di tahun 2006 di saat Presiden SBY berkuasa jadi bukti bahwa para orang soleh Nusantara saat itu kecewa dengan kepemimpinan Presiden SBY. Saat ini, banjir sudah melanda halaman depan kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng. Termasuk wilayah kebanggaan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Stadion Pakansari yang menjadi sentrum pembangunan bersumber APBD bernilai ratusan miliar. 

“Jangan sampai kejadian yang dialami Presiden SBY dengan banjir masuk ke halaman Istana Merdeka terjadi lagi. Sekarang sudah dikasih tanda. Mereka bekerja sebelum kejadian. BMKG tugasnya membaca apa yang sudah dan akan terjadi. Tapi Orang-orang soleh itu bekerja agar tidak terjadi,” tandasnya.

Seperti diketahui, angin ribut menerjang  kawasan Stadion Gelora Pakansari. Angin itu merusak atap Stadion Internasional Pakansari, meporak-porandakan para pedagang di sekitar stadion. 

Warga yang sedang beraktivitas di Laga Tangkas, Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bogor, dan warga yang sedang berolahraga memutari stadion, kaget kedatangan embusan angin dan air hujan yang sangat deras turun membanjiri Kawasan itu. Anehnya, keluar dari wilayah Stadion, cuaca hanya hujan ringan. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan cukup besar mengingat banyaknya fasilitas bangunan dan tiang-tiang di sekitar Stadion Gelora Pakansari yang mengalami kerusakan parah.

Sebelumnya,  bencana banjir terjadi di Desa Bojong Koneng dan Cijayanti , Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Arus deras sungai membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap pemicu banjir tersebut.

“Kejadian ini disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan air dari anak kali di kawasan perumahan meluap dan membawa material lumpur serta bebatuan ke area permukiman dan akses jalan,” kata Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Kamis (12/2/2026).

Banjir tersebut mengakibatkan tertutupnya satu titik ruas jalan oleh material lumpur dan batu. Selain itu, satu unit kendaraan roda empat sempat terbawa arus banjir. (Her)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *