jurnalbogor.com – Suasana duka mendalam menyelimuti kediaman keluarga Esther Aprilita, salah satu pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport. Sedangkan korban lainnya, Ferry Irawan yang bertempat tinggal di Perumahan Mina Bakti, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, rumahnya tampak lengang.
Salah seorang tetangga korban, Entang menuturkan, istri dan kedua anak Ferry dikabarkan sudah meninggalkan rumah sejak Senin (19/1) pagi.
“Sudah berangkat. Kalau nggak salah ke Bekasi, ke rumah ibunya. Informasinya jenazah korban juga dibawa kesana,” ujar Entang kepada wartawan.
Menurut dia, satu hari sebelum peristiwa jatuhnya pesawat, ia sempat bertemu dengan korban yang hendak berangkat tugas.
“Sempat ketemu di warung. Saya tanya kemana? Bilangnya akan menjalankan tugas ke Sulawesi dan berpamitan terlebih dahulu dengan anak dan istri,” jelasnya.
Ia mengatakan, korban merupakan pribadi yang baik, ramah, dan supel dalam pergaulan dengan warga sekitar.
Pesawat tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, dan berhasil ditemukan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di Puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 18 Januari 2026.
Esther Aprilita diketahui tinggal bersama orang tuanya di Perumahan Aurora, Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Sejak kabar kecelakaan tersebut mencuat, rumah duka tampak sepi dan diselimuti rasa kehilangan. Pihak keluarga memasang tenda di depan rumah sebagai tanda berkabung.
Sebagai bentuk empati dan belasungkawa, Kepala Desa Ciherang Pondok H. Aldi Wiharsa bersama Camat Caringin Ramdan Firdaus mendatangi rumah duka untuk menyampaikan duka cita serta doa bagi almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan.
Petugas keamanan Perumahan Aurora, Bonar, mengungkapkan bahwa warga sekitar baru mengetahui profesi Esther sebagai pramugari setelah peristiwa nahas tersebut terjadi. Menurutnya, almarhumah jarang berada di rumah karena kesibukannya bekerja.
“Kami dekat dengan orang tuanya. Kami juga baru mengetahui bahwa Esther adalah pramugari setelah kejadian ini,” ujar Bonar, Senin (19/1/2026).
Sementara itu, Kepala Desa Ciherang Pondok H. Aldi Wiharsa membenarkan bahwa Esther merupakan warganya yang telah tercatat sebagai penduduk setempat dengan KTP dan Kartu Keluarga.
“Memang benar Esther adalah warga kami. Meskipun asalnya dari Sumatera, beliau tinggal di Perumahan Aurora dan telah ber-KTP serta KK di Desa Ciherang Pondok bersama orang tuanya,” kata Aldi.
Ia menjelaskan bahwa Esther telah lebih dari tiga tahun berprofesi sebagai pramugari, sementara bergabungnya sebagai pramugari pesawat ATR belum genap satu tahun. Atas musibah tersebut, pihaknya menyampaikan duka cita mendalam dan mendoakan agar keluarga korban diberikan ketabahan.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ucapnya.
Aldi juga menambahkan bahwa pihaknya turut mendoakan seluruh korban kecelakaan pesawat tersebut agar proses pencarian oleh tim Basarnas berjalan lancar.
“Kami berharap pencarian seluruh korban diberikan kemudahan dan semua korban segera ditemukan,” pungkasnya. (Yud/Fdy)






