jurnalbogor.com – Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan (Kodiklat) TNI menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ketahanan Pangan Tahun 2026 di Gedung Yos Sudarso Kodiklat TNI. Pada hari pertama, Senin (2/2/2026), peserta menerima materi strategis dari dua akademisi IPB University yang berkompeten di bidang agromaritim dan pertanian berkelanjutan.
Narasumber pertama, Handian Purwawangsa selaku Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship IPB University, menyampaikan materi bertajuk “Pengembangan Ekosistem Bisnis dalam Mendukung Ketahanan Pangan”. Dalam paparannya, Handian menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi.

Ketahanan pangan disebutnya amat terkait dengan keterhubungan antarsektor, kecepatan distribusi, dan ketangguhan ekosistem usaha pangan dalam menghadapi dinamika pasar dan perubahan iklim. Handian menyoroti pentingnya inovasi model bisnis agromaritim, penguatan koperasi dan UMKM pangan, pemanfaatan teknologi digital untuk traceability produk, serta kolaborasi multi-stakeholder dalam menjaga stabilitas pasokan.
“Ekosistem pangan harus dibangun secara terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir. TNI memiliki posisi strategis sebagai katalisator penguatan rantai pasok dan pendampingan masyarakat,” ujar Handian.
Dalam konteks pengembangan komunitas, Handian memperkenalkan konsep One Village One CEO (OVOC), yakni model pendampingan desa berbasis kepemimpinan kewirausahaan. Program ini menempatkan satu figur penggerak atau CEO desa untuk mengorkestrasi potensi lokal, mengelola rantai nilai komoditas pangan, serta menghubungkan desa dengan pasar modern dan industri.
Pendekatan OVOC dinilai relevan untuk memperkuat kemandirian pangan tingkat desa dan mempercepat tumbuhnya wirausaha baru di sektor agromaritim.
Materi yang disampaikan diharapkan mampu memperluas perspektif peserta tentang pembangunan ketahanan pangan modern berbasis inovasi, kewirausahaan, dan pemberdayaan desa sebagai simpul ekonomi pangan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Supriyanto yang merupakan Dosen Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknik dan Teknologi Masyarakat Agromaritim IPB University. Supriyanto memaparkan urgensi transformasi sistem produksi pangan di tengah meningkatnya populasi, urbanisasi, dan kebutuhan pangan nasional.
Dijelaskan Supriyanto, terdapat tiga platform utama produksi pertanian masa kini, yaitu budidaya di lahan terbuka, greenhouse/hidroponik, serta plant factory berbasis pencahayaan buatan. Menurut dia, pertanian modern harus mengedepankan efisiensi lahan, penggunaan teknologi presisi, serta penerapan smart farming generasi terbaru. Konsep itu mencakup penggunaan sensor, otomasi, nutrisi terukur, hingga desain greenhouse tropis yang diadaptasi untuk iklim Indonesia.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai teknik budidaya hortikultura, penggunaan mulsa, drip irrigation, pemilihan varietas, sistem hidroponik NFT dan DWC, serta strategi produksi urban farming seperti rooftop farming dan vertical farming. Rangkaian pelatihan diharapkan mampu memperkuat kapasitas TNI dalam penyediaan pangan mandiri, meningkatkan produktivitas komoditas hortikultura, sekaligus mendorong tumbuhnya model usaha pangan modern di lingkungan masyarakat.
Kodiklat TNI menegaskan bahwa kegiatan Bimtek dirancang untuk meningkatkan kapasitas prajurit dan personel TNI dalam memahami kompleksitas sistem pangan nasional. Dengan dukungan akademisi dari IPB University, peserta diharapkan mampu mengadopsi pendekatan saintifik, inovatif, dan kolaboratif dalam pengelolaan program ketahanan pangan di satuan masing-masing. Kegiatan mengombinasikan metode teori dan praktik, termasuk pelatihan pembuatan pupuk organik cair, pengembangan usaha pangan berbasis komunitas, dan simulasi manajemen rantai pasok.
(say/cc)






