Jempol Lincah, Tubuh Melemah: Ironi Generasi Z

  • Whatsapp

jurnalbogor.com – Fenomena menurunnya aktivitas fisik di kalangan anak dan remaja Indonesia menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Laporan terbaru World Health Organization (WHO, 2024) melalui Physical Activity Factsheet Indonesia menunjukkan data yang mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 58% anak usia 10–14 tahun serta 50,4% remaja usia 15–19 tahun tergolong kurang beraktivitas fisik.

Read More

Perubahan gaya hidup generasi muda Indonesia saat ini sangat didominasi oleh teknologi. Media sosial, gim daring, dan penggunaan gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anak muda kini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk aktivitas berbasis layar, mulai dari hiburan, komunikasi, hingga kegiatan belajar. Penelitian Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2022 menunjukkan bahwa remaja di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 7 hingga 9 jam per hari di depan layar.

Budaya malas gerak ini bukan lagi sekadar konsekuensi wajar dari perkembangan zaman, melainkan telah menjelma menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Perilaku pasif tersebut lahir dari pola pikir keliru yang menganggap kenyamanan teknologi dapat menggantikan aktivitas fisik. Kondisi ini telah berkembang menjadi masalah sosial yang menuntut kepedulian bersama, baik dari keluarga maupun pemerintah, untuk segera memutus rantai kemalasan fisik sebelum kesehatan dan prestasi generasi muda benar-benar merosot.

Dampak nyata dari perilaku “mager” sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan fisik. Tubuh yang pasif merupakan pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis. Data Global Health Observatory (2023) menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Di Indonesia, lonjakan kasus obesitas remaja yang mencapai 23% pada tahun 2022 menjadi bukti bahwa generasi muda tengah mengalami krisis kebugaran. Secara medis, sebagaimana ditegaskan oleh ahli kesehatan masyarakat Prof. Dr. Soekirman (UI), kurangnya gerak menyebabkan perlambatan metabolisme dan penurunan fungsi organ tubuh secara bertahap namun pasti.

Lebih jauh, kemalasan fisik juga berdampak serius pada kesehatan mental. Banyak remaja menjadikan layar digital sebagai pelarian dari stres, tanpa menyadari bahwa aktivitas fisik merupakan sumber alami hormon kebahagiaan seperti endorfin dan serotonin. Berbagai studi menunjukkan bahwa olahraga rutin mampu menurunkan risiko depresi dan kecemasan secara signifikan. Jika budaya malas gerak terus dibiarkan, peningkatan kasus gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar menjadi ancaman yang sulit dihindari akibat hilangnya keseimbangan antara stimulasi digital dan stabilitas fisik.

Dampak destruktif tersebut pada akhirnya juga menggerus regenerasi olahraga nasional. Indonesia memiliki sejarah prestasi gemilang di berbagai cabang olahraga, khususnya bulu tangkis. Namun, kejayaan tersebut sulit dipertahankan jika olahraga tidak lagi menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Berdasarkan Indeks Pembangunan Pemuda yang dirilis Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun 2023, jumlah pelajar yang mengikuti klub olahraga menurun hingga 35%. Tanpa bibit atlet yang bugar sejak usia dini, mimpi melihat Merah Putih berkibar di kancah internasional hanya akan menjadi angan-angan.

Solusi atas permasalahan ini bukan semata membangun fasilitas fisik, melainkan membangun kesadaran kolektif. Keterbatasan sarana memang menjadi kendala, namun kurikulum pendidikan jasmani (PJOK) juga harus berani berevolusi. Pembelajaran olahraga di sekolah tidak boleh lagi terasa monoton dan membosankan. Guru PJOK perlu mengemas aktivitas fisik secara inovatif dan relevan dengan minat generasi muda, seperti street workout, fun run, atau permainan berbasis kolaborasi, agar siswa kembali menemukan kegembiraan dalam bergerak.

Pemerintah pusat dan daerah juga memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan ruang publik yang ramah, aman, dan gratis agar aktivitas fisik kembali menjadi budaya masyarakat. Budaya malas gerak adalah musuh bersama yang harus dilawan mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Tanpa tindakan nyata sejak sekarang, Indonesia berisiko memiliki generasi yang cakap menatap layar, namun rapuh secara fisik.

Membangun kembali budaya hidup aktif merupakan investasi jangka panjang demi melahirkan generasi yang sehat, kuat, dan produktif. Masa depan olahraga serta kejayaan bangsa berada di tangan anak muda yang mau berdiri, bergerak, dan berkompetisi. Saatnya bangkit dan membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki pemuda-pemuda tangguh yang siap membawa nama bangsa berjaya di masa depan.

Penulis: Muhammad Aghni Ramadhan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *