Dugaan Penganiayaan di KPPG Bogor Viral, Korban Meringkuk dan Dicambuk

  • Whatsapp
Kantor KPPG Bogor, Jalan Destarata IV Nomor 5, RT 01/RW 16, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara.

jurnalbogor.com – Insiden dugaan penganiayaan yang melibatkan dua orang Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berinisial GD dan FAN terjadi di Kantor KPPG Bogor, Jalan Destarata IV Nomor 5, RT 01/RW 16, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, viral di media sosial.

Dalam  video tersebut, terlihat FAN sedang meringkuk sambil dicambuk menggunakan sebuah alat yang diduga selang.

Read More

Kedua SPPI tersebut diketahui berasal dari wilayah Purwakarta. Insiden itu diduga dipicu perselisihan yang hingga kini masih didalami polisi untuk memastikan penyebabnya.

Kepala KPPG Bogor, Haidir, mengatakan, peristiwa tersebut diketahui setelah dirinya bersama sejumlah pimpinan KPPG mendengar teriakan dari halaman luar kantor. Saat itu, mereka tengah berada di dalam ruangan untuk mengurus berbagai keperluan terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Beberapa detik kemudian kami mendengar ada yang berteriak di halaman luar KPPG. Setelah kami keluar, ternyata ada dua SPPI dari Purwakarta yang sedang berselisih,” ujar Haidir, Kamis (15/10/2026) malam.

Melihat kejadian tersebut, Haidir bersama jajaran langsung melerai keduanya. Mereka kemudian dipanggil ke dalam ruangan untuk mendapatkan teguran keras agar tidak mengulangi tindakan serupa.

Menurut Haidir, pihaknya belum dapat memastikan apakah perselisihan itu berawal dari masalah pribadi yang terjadi sebelum keduanya datang ke kantor atau justru dipicu kesalahpahaman saat berada di lingkungan KPPG.

“Kami harus mendalami kembali sebenarnya ada masalah apa atau kesalahpahaman apa yang terjadi di antara kedua SPPI tersebut,” katanya.

Haidir menjelaskan, kedua orang yang terlibat memiliki status sebagai SPPI. Salah satunya bertugas sebagai kepala dapur, sedangkan seorang lainnya tidak sedang memegang tanggung jawab pengelolaan dapur.

Keduanya datang ke kantor KPPG Bogor untuk mengurus keperluan kedinasan. Kantor tersebut juga menjadi tempat koordinasi bagi SPPI yang bertugas di wilayah Purwakarta.

Usai kejadian, Haidir menyebut kedua SPPI telah berdamai dan kembali ke Purwakarta. Meski demikian, penyelesaian secara internal tersebut tidak serta-merta menghapus konsekuensi atas insiden yang terjadi.

“Pasti ada konsekuensi. Tidak boleh ada kekerasan, dan setiap kesalahan tentu ada konsekuensinya,” tegasnya.

Haidir menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pimpinan di Jakarta untuk meminta arahan terkait sanksi yang akan diberikan kepada kedua SPPI tersebut.

Ia menegaskan, KPPG Bogor tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, sekecil apa pun, terlebih jika terjadi di lingkungan kantor yang berkaitan dengan pelaksanaan program pemerintah.

“Kami dari KPPG Bogor ingin menegaskan bahwa tidak menoleransi semua bentuk kekerasan. Ini menjadi pembelajaran bagi kami ke depan,” ujarnya.

Haidir juga menyampaikan permohonan maaf kepada pimpinan dan masyarakat Indonesia atas kegaduhan yang timbul akibat insiden tersebut. Terlebih, peristiwa itu menjadi perhatian publik karena terjadi di lingkungan kantor yang berkaitan dengan program MBG.

Sementara itu, Camat Bogor Utara, Riki Robiansyah, mengaku baru mengetahui kejadian tersebut pada Kamis (15/10/2026) sore.

Pihak kecamatan, kata Riki, telah berkoordinasi dengan aparatur wilayah, termasuk Lurah Tegal Gundil serta pengurus RT dan RW setempat.

“Sudah berkoordinasi dengan aparatur wilayah, lurah Tegal Gundil, termasuk RT dan RW. Saat ini kejadian tersebut sedang didalami oleh pihak kepolisian,” kata Riki.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti perselisihan maupun perkembangan penanganan kasus tersebut masih menunggu pendalaman lebih lanjut. (FDY)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *