jurnalbogor.com — IPB University mendampingi kegiatan pengabdian masyarakat Six University Initiative Japan Indonesia (SUIJI)-Service Learning Program (SLP) di Desa Jayamekar, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rangkaian kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa Indonesia dan Jepang tersebut berlangsung di Kawasan Agroforestri Garut mulai 21 Februari hingga 2 Maret 2026.
SUIJI-SLP merupakan program kolaborasi pengabdian masyarakat antara tiga universitas Jepang (Ehime, Kochi, Kagawa) dan tiga universitas Indonesia (IPB, UGM, Unhas). Kegiatan SUIJI-SLP 2026 di Garut diikuti oleh 28 mahasiwa yang terdiri dari 21 mahasiswa IPB University, tujuh mahasiswa Jepang, dua orang profesor Jepang, dan tiga dosen dari IPB.

Pada Senin (23/2/2026), peserta SUIJI-SLP bertandang ke Kebun Cikulah, salah satu lahan yang dimanfaatkan sebagai lahan agroforestri di Desa Jayamekar, Kecamatan Pakenjeng, Garut. Dalam kesempatan tersebut, tim ahli dari IPB University memaparkan cara membuat agroforestri, pola-pola agroforestri, komposisi tanaman pada sistem agroforestri.
Mahasiswa juga diperkenalkan berbagai komoditas agroforestri, seperti kopi arabika, kopi robusta, alpukat, dan durian. Di Kebun Cikulah, kopi arabika menjadi salah satu komoditas utama yang sekaligus dipanen langsung oleh para peserta. Tak hanya itu, teknologi sederhana seperti drone dan penggunaan Avenza Maps sebagai aplikasi pemetaan untuk monitoring tanaman juga diselipkan.
“Yang diajarkan kepada mahasiswa SUIJI ini juga merupakan teknik dalam mengukur dan memproyeksikan serapan karbon pada proyek agroforestri,” ujar tim ahli sekaligus forester dari IPB University, Faizal Muttaqin. Dia menambahkan bahwa kegiatan ini penting untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap kontribusi agroforestri dalam mitigasi perubahan iklim.
Tak berhenti pada pemaparan materi, peserta juga melakukan pengukuran tanaman pada sampel plot yang telah ditentukan. Mereka mempraktikkan teknik identifikasi vegetasi, mengukur tinggi dan diameter pohon, hingga menghitung parameter yang dibutuhkan untuk mengestimasi cadangan karbon.
“Harapannya, mahasiswa-mahasiswa yang terlibat, baik di dalam maupun di luar negeri, bisa mengimplementasikan pengoptimalan penggunaan lahan dengan teknik agroforestri. Karena selain bisa dilakukan dalam berbagai kondisi, agroforestri bermanfaat untuk lingkungan dan ekonomi melalui serapan karbon serta hasil buahnya,” kata Faizal.
Selain aspek lingkungan, para mahasiswa SUIJI juga mempelajari perhitungan neraca massa kopi guna memahami efisiensi produksi dari hulu hingga hilir. “Mereka kami ajak mengenali kualitas buah kopi, termasuk memahami mengapa red cherry atau buah berwarna merah lebih dipilih untuk diproses dan dikemas dibandingkan yang masih hijau,” ungkap Septian Mega Prasetyo yang turut hadir sebagai narasumber.
Sepanjang rangkaian pengabdian masyarakat di Garut, mahasiswa SUIJI didampingi oleh Dosen Fakultas Kehutanan IPB University, Handian Purwawangsa, yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI). Sesampainya di Garut, mahasiswa diterima di kantor desa Jayamekar oleh Camat Pakenjeng, Kepala Desa Jayamekar, Kapolsek Pakenjeng, staf kecamatan, dan masyarakat setempat pada 22 Februari 2026.
“Kami merasa bangga dan terbuka untuk berkolaborasi. Harapannya, kehadiran mahasiswa SUIJI-SLP dapat memberikan dampak positif bagi penguatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa,” tutur Kepala Desa Jayamekar, Lia Suzana, yang menyambut hangat kedatangan peserta.
Kegiatan pengabdian masyarakat diisi dengan kunjungan ke berbagai lokasi usaha agroforestri, di antaranya memetik daun teh, pengortiran, pelayuan (whitering), penggulungan (rolling), hingga pengeringan (drying). Mahasiswa diajak untuk mengobservasi kawasan agroforestri dan praktek kegiatan grafting alpukat, pengeringan kapulaga, dan hiliriasi serta pengolahan kopi.
Berlanjut dengan berbagai kegiatan mengenalkan agroforestri kopi dari hulu ke hilir, pengenalan edukasi lingkungan ke sekolah di sekitar desa, dan pengenalan berbagai inovasi bersama masyarakat. “Kegiatan SUIJI Indonesia-Jepang ini adalah ajang untuk memperkenalkan produk agroforestri seperti kopi, durian, dan alpukat kepada mahasiswa Indonesia dan Jepang,” ujar Asisten Bidang Layanan Masyarkaat LP2AI, Supriyanto, saat mendampingi mahasiswa.
Melalui pendekatan service learning, mahasiswa diharapkan mampu menggali potensi lokal sekaligus merumuskan kontribusi nyata yang berkelanjutan bagi Desa Jayamekar. Kegiatan SUIJI-SLP Indonesia-Jepang 2026 menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi internasional berbasis pemberdayaan masyarakat, serta menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berdampak akademik, tetapi juga sosial dan ekonomi bagi desa mitra.
“Mahasiswa tidak hanya belajar dari teori, tetapi langsung berinteraksi dengan masyarakat dan melihat praktik agroforestri yang nyata di lapangan. Ini menjadi ruang pembelajaran kolaboratif yang sangat berharga,” ucap Asisten Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendidikan Internasional IPB University, Indri Hapsari Fitriyani.
(say/cc)






