Banjir di Sumatera dan Kerusakan Hutan yang Terus Diabaikan

  • Whatsapp
Kondisi lingkungan akibat banjir. (IST/net)

jurnalbogor.com – Banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang terus berulang. Hampir setiap musim hujan, masyarakat kembali menghadapi bencana yang sama, mulai dari rumah terendam, akses jalan terputus, hingga terganggunya aktivitas ekonomi.

Read More

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 hingga awal 2024, banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi di wilayah Sumatera. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir bukan lagi peristiwa sementara, melainkan persoalan lingkungan yang serius.

Banjir tidak hanya terjadi di satu atau dua daerah, tetapi meluas di berbagai provinsi, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan banjir saling berkaitan antardaerah, terutama wilayah yang berada di sepanjang daerah aliran sungai. Ketika terjadi kerusakan lingkungan di satu wilayah, dampaknya dapat dirasakan oleh wilayah lain.

Dampak banjir sangat dirasakan oleh masyarakat. Banyak warga terpaksa mengungsi karena rumahnya terendam air. Aktivitas ekonomi terhenti, lahan pertanian rusak, serta kegiatan pendidikan dan pelayanan kesehatan terganggu. Dalam kondisi ini, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling dirugikan, padahal mereka bukan penyebab utama kerusakan lingkungan.

Menurut saya, banjir yang terus terjadi tidak bisa hanya dilihat sebagai bencana alam semata. Meluasnya wilayah terdampak hingga ke daerah hulu menunjukkan adanya persoalan lingkungan yang lebih serius. Salah satu penyebab utama adalah kerusakan hutan akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan.

Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Pepohonan berfungsi menyerap air hujan dan menahan tanah agar tidak mudah longsor. Namun, ketika tutupan hutan berkurang, daya serap tanah menurun dan air hujan langsung mengalir ke sungai dalam jumlah besar. Kompas.com pada Februari 2024 melaporkan bahwa banyak daerah aliran sungai di Sumatera berada dalam kondisi kritis akibat berkurangnya tutupan hutan, sehingga sungai tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.

Kerusakan hutan di Sumatera juga berkaitan dengan maraknya praktik penebangan liar. ANTARA News pada 18 Maret 2024 melaporkan temuan kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di beberapa wilayah Sumatera. Temuan ini menjadi indikasi bahwa aktivitas illegal logging masih berlangsung dan memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan.

Permasalahan banjir diperparah oleh lemahnya pengawasan terhadap kawasan hutan. The Jakarta Post dalam laporannya pada Januari 2024 menyoroti bahwa lemahnya pengelolaan hutan dan penegakan hukum menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko banjir di Sumatera. Selama pengawasan belum diperketat dan penebangan liar masih terjadi, banjir akan terus menjadi ancaman.

Penanganan banjir seharusnya tidak hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga melalui upaya pencegahan. Pemulihan kawasan hutan, reboisasi, serta pengelolaan daerah aliran sungai perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan masyarakat dan peran media dalam menyampaikan informasi berbasis data juga penting untuk meningkatkan kesadaran akan dampak kerusakan lingkungan.

Permasalahan banjir di Sumatera juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan penggunaan lahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pembukaan lahan untuk kepentingan ekonomi sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang.

Ketika kawasan hutan berubah menjadi area perkebunan atau permukiman, maka keseimbangan alam ikut terganggu. Tanah yang sebelumnya mampu menyerap air hujan secara maksimal menjadi lebih padat dan tidak lagi berfungsi sebagai daerah resapan.

Selain itu, pendangkalan sungai akibat sedimentasi juga memperburuk kondisi banjir. Tanah yang tidak lagi tertahan oleh akar pohon mudah terbawa arus air ketika hujan deras.

Material tersebut mengendap di dasar sungai dan mengurangi kapasitas tampungnya. Akibatnya, ketika debit air meningkat, sungai lebih cepat meluap dan menggenangi wilayah di sekitarnya. Situasi ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan memiliki dampak berantai yang tidak bisa dianggap sepele.

Upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan di beberapa daerah melalui program penanaman kembali pohon dan rehabilitasi daerah aliran sungai. Namun, pelaksanaannya perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar memberikan hasil yang nyata. Reboisasi bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis hutan. Tanpa keseriusan dalam pelaksanaan dan pengawasan, program tersebut tidak akan mampu mengurangi risiko banjir secara signifikan.

Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk tidak melakukan penebangan liar dan tidak merusak kawasan hutan harus terus ditanamkan. Partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi tekanan terhadap hutan. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat, upaya menjaga hutan akan lebih efektif.

Berdasarkan berbagai data dan pemberitaan, dapat disimpulkan bahwa banjir di Sumatera merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor alam dan aktivitas manusia. Tanpa perbaikan tata kelola lingkungan, banjir berpotensi terus menjadi bencana tahunan. Oleh karena itu, menjaga hutan dan menghentikan penebangan liar menjadi langkah penting untuk melindungi lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa depan.

Penulis:
Salwa Robiatul
(Mahasiswa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *